Ia menjelaskan, GESLA lahir sebagai respons terhadap krisis multidimensi yang semakin terasa sejak pandemi COVID-19. Pada saat itu, banyak buruh menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan, sementara masyarakat juga mengalami kesulitan memperoleh pangan sehat dengan harga terjangkau. Di sisi lain, petani dan produsen pangan di desa menghadapi persoalan dalam memasarkan hasil produksinya.
Dalam situasi normal, kata Honorarius, Lumbung Agraria menjadi bagian dari upaya membangun badan usaha ekonomi berbasis koperasi yang mendistribusikan dan memasarkan hasil produksi petani dan anggota serikat kepada masyarakat dengan prinsip keadilan, solidaritas, kemandirian, dan keberlanjutan.
Konsep tersebut juga berkaitan dengan pengembangan Desa Maju Reforma Agraria (Damara) yang dikembangkan oleh anggota KPA, organisasi tani, dan masyarakat adat.
“Damara mendorong masyarakat menata dan memperkuat penguasaan, penggunaan, pengusahaan tanah, produksi, distribusi, hingga konsumsi berdasarkan kebutuhan dan inisiatif masyarakat,” jelasnya.

Masyarakat Penerima GESLA. Foto: Dok. KPA/
Dalam merespons bencana gempa di Flores, bantuan melalui GESLA terlaksana atas dukungan sejumlah anggota KPA di NTT, yakni Wahana Tani Mandiri (WTM), PBH Nusra, Sunspirit, Persatuan Masyarakat Adat Tana Bu (PMATB), Perjuangan Masyarakat Tonggurambang, dan Gerakan Muda Reforma Agraria Nangahale.
Yohanes Mere Mea, salah seorang warga Tonggurambang, Kabupaten Nagekeo, menyampaikan apresiasi kepada KPA atas bantuan yang diberikan kepada masyarakat terdampak gempa.
“Kami sangat membutuhkan bantuan untuk proses pemulihan akibat gempa Flores. KPA sudah sangat membantu kami melalui bantuan sembako yang luar biasa ini,” katanya.
Ia berharap solidaritas dan perhatian terhadap masyarakat korban gempa terus berlanjut hingga proses pemulihan kehidupan masyarakat dapat berjalan dengan baik.(*)
Kontributor: Yanto












