Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Ekonomi & Ekologi

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

badge-check


					Kepala Bagian Teknik dan Pengembangan Perumda Pasar Kota Kupang, Jemrit Meyok aat ditemui wartawan Kupang Timur INSIGHT.com di kantor Perumda, Jumat (22/5/2026). Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Kepala Bagian Teknik dan Pengembangan Perumda Pasar Kota Kupang, Jemrit Meyok aat ditemui wartawan Kupang Timur INSIGHT.com di kantor Perumda, Jumat (22/5/2026). Foto: Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Kota Kupang menggandeng akademisi Universitas Nusa Cendana (UNDANA) untuk mencari solusi mengatasi sepinya pengunjung di sejumlah pasar tradisional milik Pemerintah Kota Kupang, khususnya Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mencari konsep penataan dan pengembangan pasar agar aktivitas ekonomi di ketiga pasar bisa kembali ramai.

Hal itu disampaikan Kepala Bagian Teknik dan Pengembangan Perumda Pasar Kota Kupang, Jemrit Meyok, saat ditemui wartawan Kupang Timur INSIGHT.com di kantor Perumda Pasar, Jumat (22/05/2026).

Jemrit menjelaskan, Perumda sudah melakukan komunikasi awal dengan Fakultas Teknik UNDANA, khususnya Program Studi Arsitektur, untuk meminta bantuan kajian terkait pengembangan pasar.

“Kami menunggu hasil kajian bersama akademisi mengenai bagaimana cara meramaikan pasar tersebut. Mungkin ada konsep revitalisasi atau penataan ulang yang lebih modern. Kami berharap kajian ini bisa berjalan bulan depan sehingga bisa segera dieksekusi, termasuk melihat aspek anggaran,” ujarnya.

Menurut Jemrit, keterlibatan akademisi dianggap penting karena pola belanja masyarakat mulai berubah. Selain perkembangan transaksi online, banyak pedagang kini memilih berjualan di pinggir jalan dan mendekati kawasan permukiman warga.

Ia mencontohkan kondisi Pasar Alak yang dinilai kurang strategis karena berada di bagian belakang kawasan pasar sehingga masyarakat jarang masuk ke dalam.

“Banyak pedagang yang berjualan di luar pasar, mulai dari depan Angkatan Laut hingga pinggir-pinggir jalan. Mereka mendekatkan produk ke perumahan penduduk. Akibatnya, warga jarang masuk ke dalam pasar karena posisi pasarnya di belakang. Jika produk di luar rumah sudah tersedia dan harganya bersaing, pembeli tentu memilih yang lebih dekat,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KPA NTT Dorong Penyelesaian Konflik dan Pengakuan Hak atas Tanah Masyarakat

8 Agustus 2026 - 09:20 WIB

Dubes Australia Apresiasi Kolaborasi Pemkot Kupang dan UNICEF dalam Penanganan Anak Zero-Dose

30 Juli 2026 - 15:52 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Trending di Suara Mahasiswa