Terkait penampilan budaya, Yoyakim menjelaskan bahwa tarian Wisisi dan penggunaan pakaian adat, termasuk mahkota yang dimodifikasi menggunakan tali rafia karena keterbatasan bahan di luar Papua, merupakan tradisi yang selalu ditampilkan dalam setiap kegiatan organisasi.
“Dengan tarian, mereka bisa mengembangkan dan melestarikan budaya di manapun kita berada,” jelasnya.

Anggota FOKMAP-NTT menari Wisisi. Foto: Dok. Yanto/
Ia menambahkan, target dana yang dihimpun adalah jumlah yang cukup untuk membiayai seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari Penerimaan Anggota Baru, Natal Bersama, hingga pembubaran panitia. Selain penggalangan dana melalui pertunjukan budaya, penjualan es buah dan pisang goreng, FOKMAP-NTT juga kerap melakukan usaha dana fisik seperti kerja kebun maupun pembuatan bak dan sumur.












