KupangTimurInsight, Kupang – Serangan jantung yang selama ini identik dengan usia lanjut kini semakin banyak mengancam kelompok usia muda. Perubahan pola hidup masyarakat, terutama di kalangan generasi muda, menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko penyakit jantung di usia produktif.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Setiap tahun, jutaan orang meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan gangguan jantung dan pembuluh darah. Sebagian besar kasus tersebut dipicu oleh faktor yang sebenarnya dapat dicegah, seperti pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, merokok, obesitas, serta tingginya tingkat stres.
Fenomena ini juga menjadi perhatian di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gaya hidup modern yang semakin banyak diadopsi anak muda, mulai dari konsumsi makanan cepat saji, minuman tinggi gula, kurang tidur, hingga minim aktivitas fisik, dinilai dapat meningkatkan risiko penyakit jantung sejak usia muda.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh American Heart Association pada 2026 menunjukkan bahwa angka kematian akibat serangan jantung pertama pada kelompok usia 18 hingga 54 tahun mengalami peningkatan dalam satu dekade terakhir. Temuan ini memperlihatkan bahwa penyakit jantung tidak lagi hanya menjadi ancaman bagi kelompok lanjut usia.
Dokter spesialis jantung menjelaskan bahwa serangan jantung pada usia muda umumnya dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, kebiasaan merokok, serta riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Namun, faktor gaya hidup tetap menjadi penyebab yang paling dominan.












