Selain cuaca, Awi mengeluhkan keberadaan sampah plastik di wilayah perairan yang menjadi lokasi penangkapan ikan. Menurutnya, sampah plastik kerap tersangkut pada baling-baling perahu sehingga mengganggu aktivitas nelayan dan memaksa mereka menghentikan perjalanan untuk membersihkannya.
“Sampah plastik itu sangat mengganggu nelayan. Sering nyangkut di baling-baling. Kita harus lompat lagi untuk melepaskannya,” ungkapnya.
Ia menilai keberadaan sampah di laut juga dapat memengaruhi aktivitas penangkapan ikan. Berdasarkan pengalamannya, sampah paling banyak ditemukan di wilayah pesisir, sedangkan di bagian tengah laut relatif lebih jarang.
“Di pesisir saja. Kalau di tengah-tengah lautan, itu jarang terdapat sampah,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, nelayan juga harus menghadapi kenaikan biaya operasional, terutama akibat meningkatnya kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Awi mengatakan kenaikan biaya operasional tidak dapat dihindari karena kebutuhan nelayan saat melaut harus disesuaikan dengan kondisi dan jarak penangkapan.
“Kalau kenaikan ongkos operasional, sudah pasti. Bukan hanya soal jarak, tapi juga karena kondisi sekarang. BBM juga sedang naik. Mau tidak mau, biaya operasional harus dinaikkan,” ucapnya.
Meski biaya operasional meningkat, Awi mengatakan pendapatan nelayan saat ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
“Kalau pendapatan terhadap kebutuhan, mencukupi saja,” katanya.












