Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores Peduli Korban Gempa Flores, PSI NTT Gelar Doa dan Aksi Solidaritas Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan Nelayan Pulau Kera Ungkap Kondisi Tangkapan dan Aktivitas Melaut

Suara Mahasiswa

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

badge-check


					Foto Bersama Usai Diskusi BEMPS FISIP Unwira Kupang. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama Usai Diskusi BEMPS FISIP Unwira Kupang. Foto: Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – Puluhan mahasiswa Ilmu Pemerintahan yang tergabung dalam BEMPS FISIP Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang bersama Narasi, Eksplorasi, Referensi, Aksi, Kolaborasi, Aspirasi (NERAKA) menggelar diskusi bertajuk “Membaca Masyarakat vs Masyarakat Membaca Kekuasaan” di Pelataran BEMPS FISIP UNWIRA Kupang, Senin (7/9/2026).

Kegiatan tersebut digelar untuk meningkatkan pemahaman sekaligus daya kritis mahasiswa terhadap berbagai persoalan dan ketimpangan struktural yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Panitia penyelenggara sekaligus pemantik diskusi, Grace Maulana, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap semakin minimnya ekosistem ilmiah dan ruang diskusi interaktif di lingkungan kampus.

Grace mengatakan mahasiswa Ilmu Pemerintahan, khususnya BEMPS FISIP UNWIRA, melihat ruang-ruang ilmiah di kampus saat ini semakin terbatas. Kondisi tersebut dinilai membuat mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon seluler dan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), dibandingkan terlibat dalam diskusi tatap muka.

“Mahasiswa kemudian lebih fokus, sibuk dengan HP ketika istirahat, kemudian hal-hal apa saja didapatkan dari AI. Sangat jarang sekali, bahkan Indonesia pada umumnya, ada diskusi-diskusi interaktif tatap muka,” jelasnya.

Menurut Grace, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa menggagas forum NERAKA sebagai ruang untuk mempertemukan berbagai gagasan dan keresahan mahasiswa.

“Kami kemudian menggagas ini untuk menjawab tantangan itu. Salah satu tujuan NERAKA ini adalah adanya aspirasi dan aksi. Jadi, kami pikir langkah kecil yang sudah dilakukan hari ini untuk mencapai tujuan hadirnya NERAKA di Ilmu Pemerintahan,” ujarnya.

Forum tersebut, kata Grace, juga diharapkan mampu mengintegrasikan berbagai gagasan mahasiswa hingga berkembang menjadi gerakan bersama.

“Bagaimana mengintegrasikan gagasan-gagasan dari teman-teman untuk kemudian disatukan menjadi sebuah gerakan yang, puji Tuhan, kalau diberikan kesempatan bisa menjadi aksi massa,” katanya.

Grace menjelaskan ketimpangan struktural di NTT dipilih sebagai salah satu tema karena berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Tema utama “Membaca Masyarakat vs Masyarakat Membaca Kekuasaan” dinilai relevan untuk membedah berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat, terutama ketimpangan struktural.

“Salah satu masalah yang paling dekat dengan masyarakat adalah ketimpangan struktural. Topik ini menjadi penting karena menyangkut hajat hidup kita sebagai orang NTT,” ujarnya.

Ia menilai keberanian mahasiswa dan masyarakat untuk menyuarakan persoalan di lingkungan sekitar merupakan bagian penting dalam mencari solusi.

“Kalau kita sebagai orang asli NTT berani untuk menyuarakan masalah yang dekat dengan lingkungan sekitar kita, saya pikir kita juga bisa menjadi solusi atas masalah itu, dan forum ini menyediakan itu,” jelasnya.

Menurut dia, terdapat sejumlah persoalan yang terlihat di permukaan dan membutuhkan perhatian bersama. Persoalan tersebut meliputi kemiskinan struktural, ekologi, lapangan pekerjaan, serta akses pendidikan dan kesehatan.

“Masalah yang sangat-sangat nampak di permukaan itu, yang pertama kemiskinan struktural, kemudian yang kedua persoalan ekologi, yang ketiga masalah lapangan pekerjaan, dan yang keempat persoalan akses pendidikan dan kesehatan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Ketua BEM Undana Kupang Soroti Program Pemerintah dan Dampaknya bagi Masyarakat

27 Agustus 2026 - 15:39 WIB

Kordum Aliansi NTT Menggugat Tegaskan Tolak MBG dan KDMP

27 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Trending di Suara Mahasiswa