Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Suara Mahasiswa

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

badge-check


					Foto bersama usai nobar dan diskusi di sekretariat FMN Cabang Kupang,Liliba kota Kupang.Foto:Dok.Yanto Perbesar

Foto bersama usai nobar dan diskusi di sekretariat FMN Cabang Kupang,Liliba kota Kupang.Foto:Dok.Yanto

KupangTimurInsight, Kupang – Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang menggelar bedah film bertajuk “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di Liliba, Kota Kupang, Kamis (28/05/2026) malam. Kegiatan tersebut diikuti anggota aktif FMN bersama berbagai elemen mahasiswa dan menghadirkan dua narasumber, yakni aktivis agraria Nusa Tenggara Timur (NTT), Fadli serta akademisi FISIP Universitas Nusa Cendana (Undana), Yeftha Yeriyanto Sabaat,S.IP.,M.IP. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi kritis untuk membedah dan memberikan kritikan terhadap isi film dokumenternya tersebut.
‎
Yeftha Sabaat menilai bahwa film Pesta Babi memiliki muatan yang cukup provokatif karena penyajian data dan narasinya belum melibatkan pemerintah maupun pihak-pihak terkait lainnya. Menurutnya, keterlibatan pemerintah penting bukan untuk membela atau menyudutkan salah satu pihak, melainkan guna memastikan validitas dan objektivitas informasi yang disampaikan kepada publik.
‎
“Sebagai akademisi, saya melihat perlu adanya data pembanding dari versi pemerintah agar masyarakat bisa melakukan komparasi secara lebih terbuka terhadap narasi yang dibangun dalam film,” ujar sosok yang karib disapa Bung Yefta.
‎
Ia menambahkan, penyajian berbagai perspektif sangat penting untuk menciptakan keseimbangan informasi sehingga penonton tidak hanya menerima satu sudut pandang semata. Dengan demikian, masyarakat dapat menilai isu yang diangkat secara lebih kritis, objektif, dan menyeluruh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa