Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Suara Mahasiswa

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

badge-check


					Foto bersama usai nobar dan diskusi di sekretariat FMN Cabang Kupang,Liliba kota Kupang.Foto:Dok.Yanto Perbesar

Foto bersama usai nobar dan diskusi di sekretariat FMN Cabang Kupang,Liliba kota Kupang.Foto:Dok.Yanto

Sementara, salah satu peserta diskusi bernama Chelsi mengaku pernah tinggal di Papua selama kurang lebih tujuh tahun. Ia mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur di Papua, khususnya di Kota Jayapura, mengalami kemajuan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, film tersebut seharusnya tidak hanya menampilkan sisi permasalahan yang terjadi di Papua, tetapi juga menghadirkan gambaran mengenai berbagai pembangunan yang telah berhasil dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

“Kalau hanya menampilkan satu sisi saja, masyarakat bisa mendapatkan gambaran yang kurang utuh. Padahal ada juga pembangunan yang dirasakan masyarakat, khususnya di Jayapura. Diharapkan penyajian informasi yang lebih seimbang dapat membantu publik memahami kondisi Papua secara lebih komprehensif, baik dari sisi tantangan maupun perkembangan yang telah dicapai,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, aktivis FMN Tiara Mau menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, termasuk perwakilan dari IAKN, UNKRIS, Undana dan Muhammadiyah atas partisipasi aktif mereka dalam nobar tersebut. Menanggapi film “Pesta Babi”, ia menyatakan bahwa pandangannya tetap sama setelah menonton untuk kedua kalinya, film ini secara gamblang menggambarkan realitas Indonesia saat ini.

“Secara praktik dan kenyataan nyata, Indonesia hari ini belum merdeka sama sekali. Kemerdekaan sejati seharusnya ditandai dengan kesejahteraan rakyat, namun hal itu belum terpenuhi,” ujar sosok yang akrab disapa Jeng Tiara.

Ia juga menyoroti bahwa di Papua, masyarakat, khususnya perempuan, mengalami penindasan berlapis akibat perampasan dan monopoli tanah. Ia menilai kekuatan film ini terletak pada kemampuannya menyadarkan dan membangkitkan kemarahan publik terhadap penggunaan alat negara seperti TNI-POLRI untuk mengamankan kepentingan kapitalisme internasional atau neoliberalisme.

Namun, Jeng Tiara juga mengkritik adanya kelemahan dalam narasi film tersebut. Menurutnya, film ini cenderung menggambarkan perampasan tanah hanya sebagai masalah internal aktor-aktor di Indonesia, tanpa mengeksplorasi akar masalah global.

“Film ini kurang menjelaskan dominasi negara-negara imperialisme, seperti Amerika Serikat, di balik Proyek Strategis Nasional (PSN). Misalnya, proyek geotermal di Flores yang didanai Bank Dunia, tidak terlepas dari agenda krisis iklim global dan kepentingan asing,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa masuknya industri tambang sejak era 1960-an hingga kini juga merupakan buah dari rekomendasi negara-negara maju. “Kelemahan film ini adalah belum menyoroti bagaimana situasi global dan dominasi imperialisme memiliki dampak besar terhadap nasib masyarakat Indonesia,” tutup Jeng Tiara.*

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LMID Eksekutif Kota Kupang: Kongres XII Harus Jadi Momentum Kebangkitan Gerakan Kaum Muda

8 Agustus 2026 - 04:30 WIB

Tarian Wisisi Warnai Jalanan Kupang, Aksi Galang Dana FOKMAP-NTT Tuai Simpati Warga

16 Juli 2026 - 15:28 WIB

Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat

21 Juni 2026 - 15:21 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik

11 Juni 2026 - 14:40 WIB

Trending di Suara Mahasiswa