Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Suara Mahasiswa

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

badge-check


					Foto bersama usai nobar dan diskusi di sekretariat FMN Cabang Kupang,Liliba kota Kupang.Foto:Dok.Yanto Perbesar

Foto bersama usai nobar dan diskusi di sekretariat FMN Cabang Kupang,Liliba kota Kupang.Foto:Dok.Yanto

KupangTimurInsight, Kupang – Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang menggelar bedah film bertajuk “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di Liliba, Kota Kupang, Kamis (28/05/2026) malam. Kegiatan tersebut diikuti anggota aktif FMN bersama berbagai elemen mahasiswa dan menghadirkan dua narasumber, yakni aktivis agraria Nusa Tenggara Timur (NTT), Fadli serta akademisi FISIP Universitas Nusa Cendana (Undana), Yeftha Yeriyanto Sabaat,S.IP.,M.IP. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi kritis untuk membedah dan memberikan kritikan terhadap isi film dokumenternya tersebut.

Yeftha Sabaat menilai bahwa film Pesta Babi memiliki muatan yang cukup provokatif karena penyajian data dan narasinya belum melibatkan pemerintah maupun pihak-pihak terkait lainnya. Menurutnya, keterlibatan pemerintah penting bukan untuk membela atau menyudutkan salah satu pihak, melainkan guna memastikan validitas dan objektivitas informasi yang disampaikan kepada publik.

“Sebagai akademisi, saya melihat perlu adanya data pembanding dari versi pemerintah agar masyarakat bisa melakukan komparasi secara lebih terbuka terhadap narasi yang dibangun dalam film,” ujar sosok yang karib disapa Bung Yefta.

Ia menambahkan, penyajian berbagai perspektif sangat penting untuk menciptakan keseimbangan informasi sehingga penonton tidak hanya menerima satu sudut pandang semata. Dengan demikian, masyarakat dapat menilai isu yang diangkat secara lebih kritis, objektif, dan menyeluruh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LMID Eksekutif Kota Kupang: Kongres XII Harus Jadi Momentum Kebangkitan Gerakan Kaum Muda

8 Agustus 2026 - 04:30 WIB

Tarian Wisisi Warnai Jalanan Kupang, Aksi Galang Dana FOKMAP-NTT Tuai Simpati Warga

16 Juli 2026 - 15:28 WIB

Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat

21 Juni 2026 - 15:21 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik

11 Juni 2026 - 14:40 WIB

Trending di Suara Mahasiswa