Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Suara Mahasiswa

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

badge-check


					Foto bersama usai nobar dan diskusi di sekretariat FMN Cabang Kupang,Liliba kota Kupang.Foto:Dok.Yanto Perbesar

Foto bersama usai nobar dan diskusi di sekretariat FMN Cabang Kupang,Liliba kota Kupang.Foto:Dok.Yanto


Sementara itu, Fadli menjelaskan bahwa sekitar 80 persen isi film membahas proyek strategis nasional (PSN) yang menjadi program prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dilanjutkan pada era pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurutnya, film tersebut menunjukkan pola pembangunan di Indonesia, khususnya di Papua dan wilayah timur lainnya, memiliki kesamaan, terutama terkait dampak terhadap masyarakat adat dan lingkungan hidup.

“Di NTT sendiri terdapat sekitar 12 proyek PSN di sektor pariwisata, pangan, dan infrastruktur. Namun sebagian besar dinilai bermasalah, terutama terkait perampasan tanah, status lahan adat, dan penggusuran masyarakat. Sebagai contoh proyek Bendungan Temef yang hingga kini masih menyisakan persoalan ganti rugi bagi ratusan kepala keluarga di tiga desa terdampak,” ujar sosok yang biasa disapa Bung Fad.

Lebih lanjut, dirinya menilai bahwa dampak PSN terhadap masyarakat adat cukup besar, mulai dari hilangnya ruang hidup dan tanah adat hingga ancaman terhadap keberlanjutan generasi mendatang. Menurutnya, pola persoalan yang terjadi di NTT tidak jauh berbeda dengan situasi di Papua, hanya berbeda dari skala wilayahnya.

Meski demikian, ia juga menyampaikan bahwa investasi dan pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, listrik, dan akses transportasi merupakan syarat dasar pembangunan ekonomi dalam perspektif negara. Karena itu, wilayah yang menjadi lokasi PSN umumnya mengalami kemajuan infrastruktur.

“Namun kemajuan fisik tidak selalu berarti kesejahteraan masyarakat meningkat. Sebagai contoh Papua yang memiliki tambang besar dan pembangunan kota yang cukup maju, tetapi masih banyak masyarakat adat yang hidup dalam kemiskinan, kehilangan tanah, dan belum memperoleh akses pendidikan yang layak. Karena itu, menurutnya, pembangunan seharusnya tidak hanya diukur dari perkembangan infrastruktur, tetapi juga dari kesejahteraan masyarakat lokal serta perlindungan hak-hak adat,” katanya.

Secara keseluruhan, Bung Fadli menilai film Pesta Babi cukup kuat karena menyajikan data yang komprehensif mengenai keterkaitan perusahaan lokal, nasional, hingga jaringan kapitalis global. Film tersebut dinilai lebih menonjolkan kekuatan data dibanding memainkan emosi penonton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LMID Eksekutif Kota Kupang: Kongres XII Harus Jadi Momentum Kebangkitan Gerakan Kaum Muda

8 Agustus 2026 - 04:30 WIB

Tarian Wisisi Warnai Jalanan Kupang, Aksi Galang Dana FOKMAP-NTT Tuai Simpati Warga

16 Juli 2026 - 15:28 WIB

Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat

21 Juni 2026 - 15:21 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik

11 Juni 2026 - 14:40 WIB

Trending di Suara Mahasiswa