Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Suara Mahasiswa

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

badge-check


					Foto bersama usai nobar dan diskusi di sekretariat FMN Cabang Kupang,Liliba kota Kupang.Foto:Dok.Yanto Perbesar

Foto bersama usai nobar dan diskusi di sekretariat FMN Cabang Kupang,Liliba kota Kupang.Foto:Dok.Yanto

‎
Sementara itu, Fadli menjelaskan bahwa sekitar 80 persen isi film membahas proyek strategis nasional (PSN) yang menjadi program prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dilanjutkan pada era pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurutnya, film tersebut menunjukkan pola pembangunan di Indonesia, khususnya di Papua dan wilayah timur lainnya, memiliki kesamaan, terutama terkait dampak terhadap masyarakat adat dan lingkungan hidup.

“Di NTT sendiri terdapat sekitar 12 proyek PSN di sektor pariwisata, pangan, dan infrastruktur. Namun sebagian besar dinilai bermasalah, terutama terkait perampasan tanah, status lahan adat, dan penggusuran masyarakat. Sebagai contoh proyek Bendungan Temef yang hingga kini masih menyisakan persoalan ganti rugi bagi ratusan kepala keluarga di tiga desa terdampak,” ujar sosok yang biasa disapa Bung Fad.

Lebih lanjut, dirinya menilai bahwa dampak PSN terhadap masyarakat adat cukup besar, mulai dari hilangnya ruang hidup dan tanah adat hingga ancaman terhadap keberlanjutan generasi mendatang. Menurutnya, pola persoalan yang terjadi di NTT tidak jauh berbeda dengan situasi di Papua, hanya berbeda dari skala wilayahnya.
‎
Meski demikian, ia juga menyampaikan bahwa investasi dan pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, listrik, dan akses transportasi merupakan syarat dasar pembangunan ekonomi dalam perspektif negara. Karena itu, wilayah yang menjadi lokasi PSN umumnya mengalami kemajuan infrastruktur.
‎
“Namun kemajuan fisik tidak selalu berarti kesejahteraan masyarakat meningkat. Sebagai contoh Papua yang memiliki tambang besar dan pembangunan kota yang cukup maju, tetapi masih banyak masyarakat adat yang hidup dalam kemiskinan, kehilangan tanah, dan belum memperoleh akses pendidikan yang layak. Karena itu, menurutnya, pembangunan seharusnya tidak hanya diukur dari perkembangan infrastruktur, tetapi juga dari kesejahteraan masyarakat lokal serta perlindungan hak-hak adat,” katanya.
‎
Secara keseluruhan, Bung Fadli menilai film Pesta Babi cukup kuat karena menyajikan data yang komprehensif mengenai keterkaitan perusahaan lokal, nasional, hingga jaringan kapitalis global. Film tersebut dinilai lebih menonjolkan kekuatan data dibanding memainkan emosi penonton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa