Sementara itu, Fadli menjelaskan bahwa sekitar 80 persen isi film membahas proyek strategis nasional (PSN) yang menjadi program prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dilanjutkan pada era pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurutnya, film tersebut menunjukkan pola pembangunan di Indonesia, khususnya di Papua dan wilayah timur lainnya, memiliki kesamaan, terutama terkait dampak terhadap masyarakat adat dan lingkungan hidup.
“Di NTT sendiri terdapat sekitar 12 proyek PSN di sektor pariwisata, pangan, dan infrastruktur. Namun sebagian besar dinilai bermasalah, terutama terkait perampasan tanah, status lahan adat, dan penggusuran masyarakat. Sebagai contoh proyek Bendungan Temef yang hingga kini masih menyisakan persoalan ganti rugi bagi ratusan kepala keluarga di tiga desa terdampak,” ujar sosok yang biasa disapa Bung Fad.
Lebih lanjut, dirinya menilai bahwa dampak PSN terhadap masyarakat adat cukup besar, mulai dari hilangnya ruang hidup dan tanah adat hingga ancaman terhadap keberlanjutan generasi mendatang. Menurutnya, pola persoalan yang terjadi di NTT tidak jauh berbeda dengan situasi di Papua, hanya berbeda dari skala wilayahnya.
Meski demikian, ia juga menyampaikan bahwa investasi dan pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, listrik, dan akses transportasi merupakan syarat dasar pembangunan ekonomi dalam perspektif negara. Karena itu, wilayah yang menjadi lokasi PSN umumnya mengalami kemajuan infrastruktur.
“Namun kemajuan fisik tidak selalu berarti kesejahteraan masyarakat meningkat. Sebagai contoh Papua yang memiliki tambang besar dan pembangunan kota yang cukup maju, tetapi masih banyak masyarakat adat yang hidup dalam kemiskinan, kehilangan tanah, dan belum memperoleh akses pendidikan yang layak. Karena itu, menurutnya, pembangunan seharusnya tidak hanya diukur dari perkembangan infrastruktur, tetapi juga dari kesejahteraan masyarakat lokal serta perlindungan hak-hak adat,” katanya.
Secara keseluruhan, Bung Fadli menilai film Pesta Babi cukup kuat karena menyajikan data yang komprehensif mengenai keterkaitan perusahaan lokal, nasional, hingga jaringan kapitalis global. Film tersebut dinilai lebih menonjolkan kekuatan data dibanding memainkan emosi penonton.












