Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Nasional

Dari Papua ke NTT, Diskusi Filem “Pesta Babi” Bahas Dampak Proyek Nasional

badge-check


					Aktivis Mahasiswa, Febri Bintara. Foto: Dok.Febri/ Perbesar

Aktivis Mahasiswa, Febri Bintara. Foto: Dok.Febri/

KupangTimurInsight, Kota Kupang – Diskusi dan nonton bareng film “Pesta Babi” menjadi ruang refleksi kritis yang menyoroti dampak proyek strategis nasional (PSN) terhadap masyarakat, khususnya di Papua dan wilayah Indonesia Timur. Aktivis Mahasiswa, Febri Bintara, menilai forum tersebut sebagai ruang dialog progresif untuk membedah persoalan rakyat yang semakin terpinggirkan akibat kebijakan pembangunan.

Menurut Febri, sejak era pemerintahan Joko Widodo hingga berlanjut ke pemerintahan Prabowo Subianto, berbagai kebijakan pembangunan seperti perluasan kawasan hutan, pembabatan hutan, hingga proyek energi telah membawa dampak serius bagi masyarakat lokal. Ia menegaskan bahwa kondisi yang dialami masyarakat Papua memiliki kemiripan dengan situasi di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang kini juga dihadapkan pada berbagai PSN.

“Mulai dari perluasan kawasan hutan produksi, pengembangan taman nasional, proyek energi baru terbarukan di Pulau Flores, hingga penetapan kawasan strategis nasional di Labuan Bajo, semuanya diklaim untuk kesejahteraan rakyat. Namun kenyataannya justru merampas tanah dan ruang hidup masyarakat serta memperparah kemiskinan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti meningkatnya konflik antara masyarakat dan negara. Dalam pandangannya, negara kini cenderung hadir sebagai “tuan tanah baru” yang memonopoli sumber daya untuk kepentingan korporasi besar, sehingga mempersempit akses masyarakat terhadap sumber penghidupan.

Febri berharap diskusi tersebut tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan melahirkan langkah konkret. Ia menyinggung bentuk perlawanan masyarakat Papua yang menggunakan simbol salib sebagai bentuk penolakan terhadap PSN, serta mendorong agar gerakan serupa dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi di masing-masing daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa