Sementara itu, perwakilan tim penyelenggara, Elzy Grazia, menjelaskan bahwa pemutaran film ini bertujuan membuka ruang refleksi kritis terhadap dampak pembangunan, khususnya di Indonesia Timur. Ia menilai, meskipun pembangunan sering diklaim memiliki niat baik, dalam praktiknya kerap menimbulkan ketimpangan sosial.
“Isu PSN tidak hanya terjadi di Papua, tetapi juga di Flores, Kabupaten Kupang, hingga NTB. Polanya hampir sama, yakni kebijakan yang datang dari atas tanpa melibatkan masyarakat secara langsung,” ujarnya.
Elzy menekankan bahwa pendekatan pembangunan yang tidak partisipatif berpotensi memunculkan berbagai persoalan baru, termasuk pelanggaran hak asasi manusia. Ia juga menyoroti bahwa perspektif pembangunan di Indonesia Timur masih didominasi oleh pandangan dari luar, bukan dari masyarakat setempat.
Ia menambahkan, Yayasan PIKUL telah beberapa kali menggelar forum serupa sebagai ruang diskusi publik dengan memutar film-film dokumenter, termasuk karya Watchdoc. Ke depan, pihaknya berkomitmen untuk terus menghadirkan forum yang membahas isu-isu sosial yang relevan bagi masyarakat.
Kontributor : Yanto











