Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Ekonomi & Ekologi

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

badge-check


					Suasana Diskusi IMMALA Kupang. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Suasana Diskusi IMMALA Kupang. Foto: Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – ‎Ikatan Mahasiswa Malaka (IMMALA) Kupang menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter “Pesta Babi”Kolonialisme di Zaman Kita. Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat IMMALA, Lasiana, Kupang, pada Jumat (15/5/2026) malam ini, bertujuan membuka ruang refleksi kritis mahasiswa terhadap kondisi terkini di Papua.

‎Ketua IMMALA Kupang, Hironimus Klau, menyampaikan bahwa situasi di Papua saat ini mencerminkan bentuk penjajahan modern. Melalui kegiatan ini, IMMALA berupaya membuka cakrawala berpikir bersama mengenai keresahan masyarakat Papua, khususnya terkait implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sedang digencarkan pemerintah di wilayah tersebut.

‎”Kami merasa tidak bisa diam atas apa yang terjadi di Papua. Ini adalah rasa kemanusiaan kami terhadap sesama. Film ini menjadi refleksi penting karena kebijakan pemerintah yang sering menggembor-gemborkan soal pangan dan energi, justru seolah-olah meminggirkan hak-hak masyarakat Papua. Hak-hak mereka terasa dirampas,” ujar Hironimus.

‎Ia menekankan bahwa sebagai kaum intelektual dan kritis, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak tinggal diam. Gerakan-gerakan kecil melalui ruang diskusi seperti ini dianggap penting untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

‎Hironimus juga menyoroti isu paling menonjol dalam film tersebut, yaitu pelanggaran hak-hak masyarakat adat Papua hingga merenggut nyawa. Ia mengkritik keras pendekatan militeristik yang digunakan pemerintah untuk melancarkan berbagai kegiatan di Papua.

‎”Pemerintah seolah mempraktikkan sesuatu yang tidak manusiawi. Mobilisasi militer untuk kepentingan proyek hingga berujung pada kematian warga bukan lagi sekadar soal hak, tetapi sudah masuk ranah ketidakmanusiawian dan perampasan hak hidup. Ini adalah napas kolonialisme baru,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah

27 Mei 2026 - 15:27 WIB

Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang

25 Mei 2026 - 14:58 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi