Menanggapi fenomena pembubaran paksa terhadap pemutaran film “Pesta Babi” di berbagai daerah, Hironimus menilai hal tersebut sebagai bentuk intimidasi negara. Ia menegaskan bahwa kebebasan berpendapat dan berekspresi dijamin oleh konstitusi.
”Jika ada aparat yang membubarkan komunitas yang menonton film dokumenter ini, itu adalah langkah keliru dari pemerintah. Sikap represif ini menimbulkan dugaan bahwa negara takut akan kebenaran yang terungkap dalam film tersebut. Oleh karena itu, kami mengajak mahasiswa untuk tidak diam dan terus memperjuangkan keadilan,” kritik keras Hironimus.
Kegiatan nobar ini mendapat respons antusias dari para peserta. Mereka dinilai memiliki perspektif yang sama untuk menyatukan ide dan gagasan guna membebaskan masyarakat Papua dari jeratan ketidakadilan. Hironimus berharap kegiatan ini dapat meningkatkan literasi mahasiswa agar tidak hanya terpaku pada isu lokal, tetapi juga memahami ketimpangan nasional yang terjadi di Papua sebagai wujud ketidakadilan struktural negara.
Ia mengungkapkan bahwa kegiatan ini telah dikoordinasikan dengan pihak terkait sejak awal untuk menjaga situasi tetap aman dan kondusif. Undangan disebarluaskan secara terbuka melalui flyer, sehingga umum dapat mengakses dan berpartisipasi dalam diskusi malam itu.











