KupangTimurInsight, Kupang –Persatuan Mahasiswa Manggarai Barat (PERMMABAR) Kupang menggelar diskusi publik bertajuk “Manifestasi Pancasila di Labuan Bajo: Menjaga Keadilan Sosial dan Kedaulatan SDM Lokal di Tengah Arus Destinasi Super Premium” di Aula SMA Negeri 4 Kupang, Sabtu (06/06/2026).
Diskusi yang dimoderatori Pancratius Rosaryanto Angki tersebut menghadirkan tiga pemateri, yakni Yefta Yerianto Sabaat, S.IP., M.I.P., Febry Bintara, dan P. Peter Tan, SVD. Kegiatan diikuti anggota PERMMABAR serta sejumlah organisasi mahasiswa dan kepemudaan, termasuk PERMAI Manggarai Tengah.
Ketua Panitia, Arce Ga’om, mengatakan tema tersebut dipilih untuk mengkaji secara kritis arah pembangunan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium serta dampaknya terhadap keadilan sosial dan posisi masyarakat lokal sebagai tuan rumah di tanah sendiri.
“Keberuntungan hanya memihak mereka yang berani menjadi tuan rumah di tanah sendiri,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Yefta Yerianto Sabaat menyoroti ketimpangan implementasi Sila Kelima Pancasila di Labuan Bajo. Ia mempertanyakan apakah akses terhadap ruang publik dan sumber daya telah dinikmati secara adil oleh masyarakat lokal atau justru semakin eksklusif akibat orientasi pembangunan pariwisata premium.
Menurutnya, perubahan status Labuan Bajo tidak dapat dilepaskan dari proses politik dan ekonomi yang melibatkan relasi kekuasaan antara negara, investor, dan masyarakat. Ia menilai ruang publik kini cenderung diperlakukan sebagai komoditas ekonomi, sementara hak-hak masyarakat lokal semakin terpinggirkan.
“Pertanyaan mendasarnya, apakah kebijakan yang ada benar-benar berpihak pada kedaulatan SDM lokal dan keadilan sosial atau hanya menguntungkan segelintir pihak,” tegasnya.
Sementara itu, Febry Bintara mengkritik keras model pembangunan pariwisata yang dinilai mengarah pada bentuk kolonialisme baru. Ia menegaskan bahwa Labuan Bajo bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang hidup masyarakat yang memiliki nilai historis, budaya, dan spiritual.












