Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Suara Mahasiswa

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

badge-check


					Suasana Diskusi. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Suasana Diskusi. Foto: Dok. Yanto/

Menanggapi hal tersebut, Yefta menilai negara saat ini hadir melalui mekanisme kapital yang berujung pada pembatasan akses publik terhadap sumber daya. Ia mencontohkan kasus-kasus pembangunan di Labuan Bajo, Riung, dan Mutis yang menurutnya menunjukkan pola serupa, yakni pengalihan ruang publik demi kepentingan investasi.

Sementara itu, Febry menegaskan bahwa persoalan ketimpangan tidak dapat diselesaikan tanpa reforma agraria dan penguatan organisasi rakyat. Ia mendorong pendidikan yang membebaskan agar masyarakat mampu berpikir kritis dan melawan berbagai bentuk hegemoni.

Peter Tan menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pariwisata premium belum tentu menghasilkan keadilan distributif. Menurutnya, keuntungan ekonomi yang besar sering kali tidak dirasakan oleh masyarakat akar rumput karena lebih banyak dinikmati kelompok elit dan pemilik modal.

Di akhir diskusi, para pemateri sepakat bahwa nilai-nilai komunal masyarakat lokal harus diintegrasikan ke dalam kebijakan pembangunan. Mahasiswa didorong menjadi jembatan yang membawa nilai-nilai lokal ke ruang yang lebih luas, sementara implementasi Pancasila harus diwujudkan secara konkret melalui perlindungan hak masyarakat dan pemberdayaan SDM lokal.

Selain itu, peningkatan keterampilan, kapasitas berpikir kritis, dan penguatan organisasi masyarakat dinilai menjadi kunci untuk memastikan masyarakat Labuan Bajo tidak sekadar menjadi objek pembangunan, melainkan pelaku utama yang menikmati manfaat dari pembangunan tersebut.***

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa