Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Suara Mahasiswa

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

badge-check


					Suasana Diskusi. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Suasana Diskusi. Foto: Dok. Yanto/

Menanggapi hal tersebut, Yefta menilai negara saat ini hadir melalui mekanisme kapital yang berujung pada pembatasan akses publik terhadap sumber daya. Ia mencontohkan kasus-kasus pembangunan di Labuan Bajo, Riung, dan Mutis yang menurutnya menunjukkan pola serupa, yakni pengalihan ruang publik demi kepentingan investasi.

Sementara itu, Febry menegaskan bahwa persoalan ketimpangan tidak dapat diselesaikan tanpa reforma agraria dan penguatan organisasi rakyat. Ia mendorong pendidikan yang membebaskan agar masyarakat mampu berpikir kritis dan melawan berbagai bentuk hegemoni.

Peter Tan menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pariwisata premium belum tentu menghasilkan keadilan distributif. Menurutnya, keuntungan ekonomi yang besar sering kali tidak dirasakan oleh masyarakat akar rumput karena lebih banyak dinikmati kelompok elit dan pemilik modal.

Di akhir diskusi, para pemateri sepakat bahwa nilai-nilai komunal masyarakat lokal harus diintegrasikan ke dalam kebijakan pembangunan. Mahasiswa didorong menjadi jembatan yang membawa nilai-nilai lokal ke ruang yang lebih luas, sementara implementasi Pancasila harus diwujudkan secara konkret melalui perlindungan hak masyarakat dan pemberdayaan SDM lokal.

Selain itu, peningkatan keterampilan, kapasitas berpikir kritis, dan penguatan organisasi masyarakat dinilai menjadi kunci untuk memastikan masyarakat Labuan Bajo tidak sekadar menjadi objek pembangunan, melainkan pelaku utama yang menikmati manfaat dari pembangunan tersebut.***

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LMID Eksekutif Kota Kupang: Kongres XII Harus Jadi Momentum Kebangkitan Gerakan Kaum Muda

8 Agustus 2026 - 04:30 WIB

Tarian Wisisi Warnai Jalanan Kupang, Aksi Galang Dana FOKMAP-NTT Tuai Simpati Warga

16 Juli 2026 - 15:28 WIB

Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat

21 Juni 2026 - 15:21 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik

11 Juni 2026 - 14:40 WIB

Trending di Suara Mahasiswa