Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Suara Mahasiswa

Kordum Aliansi NTT Menggugat Tegaskan Tolak MBG dan KDMP

badge-check


					Koordinator Umum (Kordum) aksi Aliansi NTT Menggugat, Flori Ujung. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Koordinator Umum (Kordum) aksi Aliansi NTT Menggugat, Flori Ujung. Foto: Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – Koordinator Umum (Kordum) Aliansi NTT Menggugat sekaligus perwakilan Front Mahasiswa Nasional (FMN) menegaskan pihaknya menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dijalankan pemerintahan Prabowo-Gibran.

Hal tersebut disampaikan Kordum Aliansi NTT Menggugat usai aksi demonstrasi bertajuk “Menggalang Kekuatan Bersama, Lawan Kebijakan yang Menindas Rakyat” di Bundaran El Tari, Kota Kupang, Kamis (27/8/2026), saat diwawancarai wartawan Kupang Timur INSIGHT.

Ia mengatakan, salah satu tuntutan mendesak Aliansi NTT Menggugat adalah mengkaji kembali program yang mereka nilai sebagai program korup, salah satunya MBG.

Menurutnya, MBG tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia, khususnya kebutuhan siswa, pemuda dan mahasiswa.

“MBG adalah program korup, program yang dijalankan oleh rezim Prabowo untuk membagi keuntungan dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Karena MBG yang hari ini kita lihat, pelaksanaannya banyak makanan yang beracun,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penolakan terhadap MBG bukan semata-mata karena persoalan teknis dalam pelaksanaannya, melainkan karena sistem yang mendasari program tersebut.

Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan pendidikan gratis, ilmiah dan demokratis. Sebab, masih banyak anak dari kalangan buruh dan kaum tani yang belum dapat merasakan pendidikan secara layak.

“Yang kita gaungkan adalah pendidikan yang gratis, yang ilmiah, dan demokratis. Masih banyak anak kelas buruh dan kaum tani yang belum bisa merasakan bagaimana berpendidikan di sekolah dan bagaimana mengenyam pendidikan yang sepantasnya, yang menjadi hak setiap warga negara,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa