KupangTimurInsight, Kupang – Isu feminisme dan perjuangan perempuan kembali menjadi perhatian di lingkungan akademik, khususnya di Universitas Nusa Cendana (Undana). Mahasiswa dan akademisi mulai mendorong ruang-ruang diskusi sebagai upaya membangun kesadaran kritis terhadap posisi perempuan dalam kehidupan sosial.
Salah satu dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Yohanes Adventura LB. Lamawato, S.Pd., M.Hum., saat diwawancarai pada Selasa (21/4/2026), menilai bahwa selama ini peringatan Hari Kartini kerap berlangsung seremonial tanpa diikuti refleksi mendalam. Padahal, momentum tersebut seharusnya menjadi ruang untuk membahas kembali makna perjuangan perempuan dalam konteks kekinian.
Menurutnya, penting bagi mahasiswa untuk menghadirkan forum diskusi yang membuka ruang pertukaran gagasan secara bebas. Ia melihat bahwa kesadaran kritis mahasiswa mulai tumbuh, ditandai dengan munculnya berbagai perspektif baru dalam membahas isu perempuan.
Ia juga menegaskan bahwa perjuangan perempuan tidak selalu harus dipahami dalam kerangka kesetaraan yang kaku. Sebaliknya, pendekatan keseimbangan dinilai lebih relevan karena mencerminkan relasi yang alami antara perempuan dan laki-laki.
“Perempuan dan laki-laki memiliki peran yang berbeda, tetapi keduanya saling melengkapi dan menuju tujuan yang sama,” jelasnya.










