Dalam konteks akademik, ia menilai feminisme masih perlu terus didorong sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang yang adil. Namun, ia menekankan bahwa feminisme bukan bertujuan melawan sistem patriarki secara konfrontatif, melainkan menyeimbangkan relasi sosial yang ada.
“Feminisme bukan untuk melawan, tetapi untuk menyeimbangkan. Perempuan memiliki hak yang sama, termasuk dalam dunia akademik,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan sosial. Bahkan, ia menyebut perempuan sebagai bagian penting dari peradaban, karena dari perempuanlah kehidupan bermula.
Dalam konteks lokal Nusa Tenggara Timur (NTT), dinamika antara budaya patriarki dan matriarki juga menjadi perhatian. Ia menjelaskan bahwa kedua sistem tersebut merupakan konstruksi sosial yang seharusnya tidak saling bertentangan, melainkan berjalan beriringan.
“Patriarki dan matriarki itu seperti dua sisi mata uang. Berbeda, tetapi saling melengkapi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa menjaga keseimbangan menjadi kunci agar tidak terjadi ketimpangan sosial, khususnya terhadap perempuan. Oleh karena itu, peran akademisi dan mahasiswa dinilai penting dalam terus menyuarakan isu-isu keadilan gender di ruang publik.
Menurutnya, pembahasan mengenai perempuan tidak akan pernah selesai, karena berkaitan langsung dengan dinamika sosial yang terus berkembang.***
Kontributor: Yanto










