Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Pendidikan & Teknologi

GMNI Kupang Gelar Diskusi “Membaca Soekarno dari Kiri”, Bahas Pancasila, Marhaenisme dan Tantangan Demokrasi

badge-check


					Foto Bersama Usai Kegiatan. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama Usai Kegiatan. Foto: Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kupang bekerja sama dengan Komunitas KULI Batulis menggelar diskusi publik bertajuk “Membaca Soekarno dari Kiri” di Gardu GMNI Kupang, Naimata, Kota Kupang, Selasa (2/6/2026).

Kegiatan ini dihadiri akademisi, kader GMNI, serta sejumlah organisasi mahasiswa seperti LMND, BEMNUS, GMKI, dan FMN Kupang. Diskusi menghadirkan Peter Tan, SVD., dan Dr. Rudi Rohi sebagai pemateri utama, sementara Eusabius S. Niron, S.IP., M.IP., bertindak sebagai penanggap. Acara dipandu oleh moderator Louiza Maria Fransiska Wua.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta pemutaran pidato-pidato Bung Karno. Suasana diskusi berlangsung aktif dengan antusiasme peserta yang tinggi sepanjang kegiatan.

Dalam pemaparannya, Peter Tan menjelaskan bahwa Pancasila lahir dari pergulatan berbagai gagasan besar dunia, seperti nasionalisme, sosialisme, Marxisme, dan nilai-nilai religius. Menurutnya, Soekarno tidak sekadar menggabungkan berbagai pemikiran tersebut, tetapi melahirkan gagasan yang khas Indonesia melalui konsep Marhaenisme.

Ia menegaskan bahwa Pancasila lebih tepat dipahami sebagai dasar filsafat dan pandangan hidup bangsa daripada sekadar ideologi yang bersifat tertutup. Karena itu, Pancasila harus terus dibaca dan ditafsirkan sesuai perkembangan zaman.

“Pancasila tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang sudah selesai. Justru di dalamnya terdapat ruang untuk berpikir, berdialog, dan mengkritisi realitas sosial yang terus berubah,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik

11 Juni 2026 - 14:40 WIB

IMM Kupang Gelar Nobar Film Tanah Air Beta, Bahas Nasionalisme dan Persatuan Bangsa

31 Mei 2026 - 11:06 WIB

Kuliah Umum di Stikom Uyelindo, Menko Pangan Tekankan Peran Mahasiswa IT dalam Ketahanan Pangan Nasional

15 Mei 2026 - 06:53 WIB

Tak Hanya Aksi, FMN Kupang–BEM Unwira Gelar Diskusi Publik di May Day 2026

1 Mei 2026 - 15:48 WIB

Dosen Dinonaktifkan dari Tri Darma Kampus, Pers Dibungkam Saat Audiensi

27 April 2026 - 08:07 WIB

Trending di Pendidikan & Teknologi