Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Headline

Diskusi Publik Memperingati Hari Kartini: “Perempuan Dalam Pusaran Prabowo-Gibran”

badge-check


					Foto saat diskusi.Foto:Dok.Yanto/ Perbesar

Foto saat diskusi.Foto:Dok.Yanto/

‎KupangTimurInsight, Kupang- Diskusi publik bertema “Perempuan Dalam Pusaran Prabowo-Gibran” digelar pada Jumat (24 April 2026) di Kopi Dapo San17, Kupang. Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri, yakni Ketua BEM FISIP Undana, Bung Vuguera; Dosen FISIP Unwira, Veronika Boleng Kelen, S.AP., M.AP.; serta Aktivis FMN Cabang Kupang, Jeng Tiara.

‎Acara dibuka dengan fragmen singkat tentang Kartini tempo dulu dan sekarang, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa sebelum diskusi dimulai. Suasana diskusi berjalan penuh dialektika, di mana peserta dan pemateri saling menyilang ide dan gagasan, membuat kegiatan ini penuh dengan warna dan khidmat.

‎Diskusi yang merupakan hasil kolaborasi antara Front Mahasiswa Nasional (FMN), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Undana, dan Astria Initia Pusat Studi dan Kreativitas Mahasiswa ini menjadi ruang refleksi sejarah perjuangan perempuan sekaligus mengenang Kartini sebagai pahlawan perempuan yang tangguh pada masanya.

‎Ketua BEM FISIP Undana, Bung Vuguera, menyoroti kuatnya budaya patriarki yang masih mengakar dalam kehidupan masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

‎Menurutnya, patriarki telah terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari sehingga sering kali tidak lagi dipertanyakan secara kritis.
‎“Kenapa perempuan selalu ditempatkan di bawah laki-laki? Kenapa perempuan dianggap nomor dua? Ini yang harus kita kritisi,” tegasnya.

‎Ia juga menilai bahwa perempuan hingga kini belum sepenuhnya dipandang sebagai subjek, melainkan masih sering dianggap sebagai objek, bahkan alat untuk kepentingan tertentu. Selain itu, keterbatasan akses untuk melaporkan ketidakadilan menjadi persoalan serius yang memperkuat posisi subordinat perempuan.

‎”Pembebasan perempuan tidak cukup hanya digaungkan. Realitasnya, perempuan masih belum punya akses dan keberanian yang cukup untuk bersuara,”tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LMID Eksekutif Kota Kupang: Kongres XII Harus Jadi Momentum Kebangkitan Gerakan Kaum Muda

8 Agustus 2026 - 04:30 WIB

Ribuan Warga Padati CFD Kupang, Sambut Kehadiran Jokowi dengan Antusias

1 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Wawali Kota Kupang Luncurkan Program PKM Berdampak 2026

30 Juli 2026 - 16:07 WIB

Tarian Wisisi Warnai Jalanan Kupang, Aksi Galang Dana FOKMAP-NTT Tuai Simpati Warga

16 Juli 2026 - 15:28 WIB

Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat

21 Juni 2026 - 15:21 WIB

Trending di Nasional