Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Headline

Diskusi Publik Memperingati Hari Kartini: “Perempuan Dalam Pusaran Prabowo-Gibran”

badge-check


					Foto saat diskusi.Foto:Dok.Yanto/ Perbesar

Foto saat diskusi.Foto:Dok.Yanto/

‎Diskusi ini menegaskan bahwa perjuangan perempuan telah mengalami pergeseran, dari sekadar memperoleh akses menuju upaya merebut kontrol, keamanan, dan pengakuan sebagai subjek penuh dalam ruang sosial, pendidikan, dan politik.
‎
‎Ia menyebut, meski kampus telah memiliki regulasi dan satuan tugas pencegahan kekerasan seksual (PKS), implementasinya belum maksimal. Banyak civitas akademika bahkan belum memahami mekanisme perlindungan dan pelaporan.
‎
‎”Kampus harus menjadi ruang kritis, bukan hanya formalitas,”ujarnya.
‎Ia juga menekankan pentingnya perubahan budaya, dari menyalahkan korban menjadi mendukung korban, serta menempatkan perempuan sebagai subjek.
‎
‎”Jika kampus belum menjadi ruang aman dan setara, maka itu tugas kita bersama untuk mewujudkannya,”tutupnya.
‎
Peserta diskusi dari aktivis FMN,Bung Asrul,menilai perempuan masih akan terus mengalami penindasan berlapis. Ia menyebut hal ini dipengaruhi oleh ideologi fasisme yang tidak demokratis, serta relasi antara kelas yang berkuasa dan kelas tertindas.
‎Menurutnya, perempuan berada pada posisi paling rentan karena mengalami penindasan ganda-baik secara kelas maupun budaya patriarki.
‎
‎”Perempuan tidak hanya tertindas secara ekonomi, tetapi juga secara budaya,” ujarnya.
‎
‎Ia menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan perjuangan perempuan masih panjang dan harus terus diperjuangkan secara kolektif.‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa