Aktivis FMN, Jeng Tiara, menilai perempuan masih mengalami penindasan berlapis akibat sistem sosial yang tidak adil. Ia menyebut, selain budaya patriarki, relasi kelas antara kelompok berkuasa dan tertindas turut memperparah posisi perempuan.
”Perempuan mengalami penindasan ganda, baik secara ekonomi maupun budaya”, ujarnya.
Ia mencontohkan ketimpangan upah antara laki-laki dan perempuan, minimnya perlindungan seperti cuti haid dan jam kerja layak, serta terbatasnya akses perempuan dalam sektor ekonomi seperti kedaulatan pangan.
Di bidang politik dan organisasi, perempuan juga dinilai masih dimarginalkan.
Mereka sering ditempatkan pada posisi administratif seperti sekretaris atau bendahara, dan jarang diberi ruang sebagai pemimpin.
Selain itu, keterwakilan perempuan dalam politik yang hanya sekitar 30 persen dinilai belum cukup untuk menjamin keadilan substantif.
Jeng Tiara menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan penindasan terhadap perempuan terjadi secara otomatis karena di lahirkan oleh sistem itu sendiri.
Karena itu, ia mendorong pentingnya ruang-ruang diskusi kritis untuk membangun kesadaran dan memperjuangkan keadilan gender.***
Kontributor: Yanto












