Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Headline

Diskusi Publik Memperingati Hari Kartini: “Perempuan Dalam Pusaran Prabowo-Gibran”

badge-check


					Foto saat diskusi.Foto:Dok.Yanto/ Perbesar

Foto saat diskusi.Foto:Dok.Yanto/

‎KupangTimurInsight, Kupang- Diskusi publik bertema “Perempuan Dalam Pusaran Prabowo-Gibran” digelar pada Jumat (24 April 2026) di Kopi Dapo San17, Kupang. Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri, yakni Ketua BEM FISIP Undana, Bung Vuguera; Dosen FISIP Unwira, Veronika Boleng Kelen, S.AP., M.AP.; serta Aktivis FMN Cabang Kupang, Jeng Tiara.

‎Acara dibuka dengan fragmen singkat tentang Kartini tempo dulu dan sekarang, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa sebelum diskusi dimulai. Suasana diskusi berjalan penuh dialektika, di mana peserta dan pemateri saling menyilang ide dan gagasan, membuat kegiatan ini penuh dengan warna dan khidmat.

‎Diskusi yang merupakan hasil kolaborasi antara Front Mahasiswa Nasional (FMN), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Undana, dan Astria Initia Pusat Studi dan Kreativitas Mahasiswa ini menjadi ruang refleksi sejarah perjuangan perempuan sekaligus mengenang Kartini sebagai pahlawan perempuan yang tangguh pada masanya.

‎Ketua BEM FISIP Undana, Bung Vuguera, menyoroti kuatnya budaya patriarki yang masih mengakar dalam kehidupan masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

‎Menurutnya, patriarki telah terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari sehingga sering kali tidak lagi dipertanyakan secara kritis.
‎“Kenapa perempuan selalu ditempatkan di bawah laki-laki? Kenapa perempuan dianggap nomor dua? Ini yang harus kita kritisi,” tegasnya.

‎Ia juga menilai bahwa perempuan hingga kini belum sepenuhnya dipandang sebagai subjek, melainkan masih sering dianggap sebagai objek, bahkan alat untuk kepentingan tertentu. Selain itu, keterbatasan akses untuk melaporkan ketidakadilan menjadi persoalan serius yang memperkuat posisi subordinat perempuan.

‎”Pembebasan perempuan tidak cukup hanya digaungkan. Realitasnya, perempuan masih belum punya akses dan keberanian yang cukup untuk bersuara,”tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah

27 Mei 2026 - 15:27 WIB

Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang

25 Mei 2026 - 14:58 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

GMKI Kupang Kecam Represivitas Aparat dalam Aksi Cipayung Plus, Janjikan Aksi Jilid III ‎

15 Mei 2026 - 11:17 WIB

Trending di Politik & Hukum