KupangTimurInsight, Kupang – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M., memberikan kuliah umum bertajuk “Teknologi dan Digital untuk Ketahanan Pangan NTT: Peran Mahasiswa IT dalam Mewujudkan Swasembada Nasional” di Kampus Stikom Uyelindo Kupang, pada Jumat (15/5/2026) siang.
Dalam sambutannya, Zulkifli Hasan menyampaikan apresiasi terhadap kekayaan kearifan lokal dan potensi alam Nusa Tenggara Timur Ia menekankan bahwa tanah NTT tidak hanya membawa kebanggaan, tetapi juga harapan dan inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya demi bangsa dan negara.
”Mari kita ingat kembali amanat Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 33, yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Ini adalah fondasi ekonomi kerakyatan dan ekonomi Pancasila, berbasis gotong royong, kebersamaan, dan kekeluargaan,” ujar Zulkifli.
Zulkifli menguraikan pergeseran paradigma ekonomi Indonesia dari masa Orde Baru hingga pasca-Reformasi 1998. Ia menjelaskan bahwa dahulu, sektor strategis seperti pertanian dan perkebunan diatur ketat agar kepentingan rakyat menjadi prioritas. Sistem inti-plasma diterapkan, di mana 80% penguasaan lahan harus berada di tangan rakyat atau petani kecil, sementara korporasi besar hanya memegang 20%.
”Dulu, usaha peternakan skala besar dibatasi. Peternakan rakyat seperti ayam kampung, kambing, atau domba didorong karena kepemilikannya ada di tangan masyarakat, bukan konglomerasi. Namun, pasca-Reformasi tahun 1999, dengan terpilihnya presiden secara langsung dan otonomi daerah, ekonomi berubah menjadi ‘siapa yang kuat, dia yang menang’. Akibatnya, lahan-lahan produktif banyak jatuh ke tangan pemodal besar,” jelasnya.
Ia mencontohkan kasus komoditas ayam dan telur. Saat ini, pasar domestik sangat bergantung pada dua perusahaan dagang besar dari Thailand, sehingga uang rakyat mengalir ke luar negeri. Dulu, Indonesia dikenal dengan ayam kampung yang alami. Kini, dominasi ayam broiler (ayam negeri) yang direkayasa genetika memungkinkan produksi 1 kilogram daging hanya dalam 20-35 hari, dibandingkan ayam kampung yang membutuhkan waktu hingga dua tahun. Hal serupa terjadi pada jagung dan gula, di mana bibit rekayasa genetika impor membuat petani bergantung pada pembelian bibit setiap musim, berbeda dengan benih lokal yang bisa disimpan dan dikembangkan sendiri.











2 Komentar
iymhvxfspkynzmopvvoezpfyzhmzyy
phzyxirqmromwqmijpqkhksddvezjv