Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Nasional

Kuliah Umum di Stikom Uyelindo, Menko Pangan Tekankan Peran Mahasiswa IT dalam Ketahanan Pangan Nasional

badge-check


					Foto Bersama Usai Menggelar Kuliah Umum. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama Usai Menggelar Kuliah Umum. Foto: Dok. Yanto/

‎‎
‎Menyinggung peran teknologi, Zulkifli menekankan bahwa efisiensi adalah kunci ketahanan pangan. Ia membandingkan produktivitas tenaga manual versus teknologi.

‎”Untuk menggarap satu hektar lahan secara manual, dibutuhkan sekitar 24 orang dalam satu hari. Namun, dengan menggunakan teknologi dan alat mekanisasi, satu alat bisa mengerjakan 24 hektar dalam satu hari. Ini adalah lompatan produktivitas yang luar biasa,” paparnya.

‎Ia menyoroti pemanfaatan teknologi digital dalam pertanian modern, seperti aplikasi pemantauan irigasi yang sudah berkembang di Yogyakarta, serta penggunaan drone untuk memantau kesuburan tanah dan kesehatan tanaman. Di Jawa Timur, biaya produksi gula bisa ditekan hingga Rp3.500 per kilogram berkat mekanisasi, sebuah efisiensi yang belum sepenuhnya diterapkan di Indonesia.

‎”Jika kita tidak produktif, kita akan terus bergantung pada impor. Mahasiswa IT memiliki peran strategis di sini. Teknologi bukan sekadar alat, tapi solusi untuk kemandirian. Kami datang ke sini untuk mendukung kampus ini mengembangkan IT, karena digitalisasi adalah jalan menuju swasembada,” tegas Zulkifli.
‎‎
‎Zulkifli mengajak mahasiswa Stikom Uyelindo untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi. Ia berharap mahasiswa dapat mengembangkan inovasi yang sesuai dengan konteks lokal NTT, sehingga potensi alam yang melimpah dapat dikelola secara efisien dan mandiri.

‎”Jangan biarkan lahan dan potensi kita habis dieksploitasi oleh pihak luar. Gunakan teknologi untuk memberdayakan petani dan UMKM lokal. Jika kita makmur secara teknologi, kita bisa bertanya pada alam tanpa merusaknya, dan menjawab kebutuhan pangan bangsa,” pungkasnya.

‎ Yang hadir juga dalam Kuliah umum ini adalah Pasha ungu,Verlel Bramasta serta ratusan mahasiswa dan dosen, serta disambut antusias sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknologi informasi untuk sektor pangan.****

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. wimhpoqizm

    iymhvxfspkynzmopvvoezpfyzhmzyy

    Reply
  2. mffkiyjegt

    phzyxirqmromwqmijpqkhksddvezjv

    Reply
semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat

21 Juni 2026 - 15:21 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik

11 Juni 2026 - 14:40 WIB

FKPTT Adukan Akun Media Sosial ke Polda NTT Terkait Tuduhan Monopoli Program MBG

8 Juni 2026 - 15:39 WIB

Alarm Krisis Iklim dan Ruang Hidup Perempuan di NTT Mengemuka dalam Webinar Hari Lingkungan Hidup 2026

7 Juni 2026 - 18:01 WIB

Trending di Ekologi