Menyinggung peran teknologi, Zulkifli menekankan bahwa efisiensi adalah kunci ketahanan pangan. Ia membandingkan produktivitas tenaga manual versus teknologi.
”Untuk menggarap satu hektar lahan secara manual, dibutuhkan sekitar 24 orang dalam satu hari. Namun, dengan menggunakan teknologi dan alat mekanisasi, satu alat bisa mengerjakan 24 hektar dalam satu hari. Ini adalah lompatan produktivitas yang luar biasa,” paparnya.
Ia menyoroti pemanfaatan teknologi digital dalam pertanian modern, seperti aplikasi pemantauan irigasi yang sudah berkembang di Yogyakarta, serta penggunaan drone untuk memantau kesuburan tanah dan kesehatan tanaman. Di Jawa Timur, biaya produksi gula bisa ditekan hingga Rp3.500 per kilogram berkat mekanisasi, sebuah efisiensi yang belum sepenuhnya diterapkan di Indonesia.
”Jika kita tidak produktif, kita akan terus bergantung pada impor. Mahasiswa IT memiliki peran strategis di sini. Teknologi bukan sekadar alat, tapi solusi untuk kemandirian. Kami datang ke sini untuk mendukung kampus ini mengembangkan IT, karena digitalisasi adalah jalan menuju swasembada,” tegas Zulkifli.
Zulkifli mengajak mahasiswa Stikom Uyelindo untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi. Ia berharap mahasiswa dapat mengembangkan inovasi yang sesuai dengan konteks lokal NTT, sehingga potensi alam yang melimpah dapat dikelola secara efisien dan mandiri.
”Jangan biarkan lahan dan potensi kita habis dieksploitasi oleh pihak luar. Gunakan teknologi untuk memberdayakan petani dan UMKM lokal. Jika kita makmur secara teknologi, kita bisa bertanya pada alam tanpa merusaknya, dan menjawab kebutuhan pangan bangsa,” pungkasnya.
Yang hadir juga dalam Kuliah umum ini adalah Pasha ungu,Verlel Bramasta serta ratusan mahasiswa dan dosen, serta disambut antusias sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknologi informasi untuk sektor pangan.****
Kontributor: Yanto











2 Komentar
iymhvxfspkynzmopvvoezpfyzhmzyy
phzyxirqmromwqmijpqkhksddvezjv