Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Suara Mahasiswa

Buruh Informal di Kupang Terabaikan, LMND Siapkan Aksi Jelang Hari Buruh Internasional

badge-check


					Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Kupang, Meki Maubanu. Foto:Dok. Yanto/ Perbesar

Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Kupang, Meki Maubanu. Foto:Dok. Yanto/

Selain upah rendah, jam kerja buruh juga dinilai melampaui batas ketentuan. Jika aturan menetapkan 8 jam kerja per hari, realitas di lapangan menunjukkan banyak buruh bekerja hingga 10 jam bahkan 14–15 jam per hari. “Ini sudah masuk kategori eksploitasi tenaga kerja,” tegas Meki dalam wawancara tersebut.

LMND menilai buruh informal merupakan kelompok paling rentan terhadap ketidakadilan. Mereka bekerja di sektor yang tidak berbadan hukum dan tidak memiliki kontrak kerja yang jelas. Dalam investigasi juga ditemukan adanya kekerasan psikologis, minimnya perhatian pengusaha terhadap pekerja, serta orientasi pengusaha yang lebih fokus pada alat produksi dibanding kesejahteraan manusia.

Sebagai langkah lanjutan, LMND Kota Kupang berencana melakukan aksi bersama buruh yang telah mereka konsolidasikan. Aksi ini akan diarahkan hingga tahap audiensi dengan pemerintah daerah.

Beberapa tuntutan utama yang akan dibawa antara lain penetapan standar upah bagi buruh informal, pengawasan ketat terhadap jam kerja, jaminan sosial bagi seluruh buruh, serta pembentukan tim khusus pengawas ketenagakerjaan. “Kami ingin pemerintah hadir, bukan hanya untuk buruh formal, tetapi juga buruh informal yang jumlahnya jauh lebih besar di Kupang,” kata Meki dalam wawancara tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KPA NTT Dorong Penyelesaian Konflik dan Pengakuan Hak atas Tanah Masyarakat

8 Agustus 2026 - 09:20 WIB

LMID Eksekutif Kota Kupang: Kongres XII Harus Jadi Momentum Kebangkitan Gerakan Kaum Muda

8 Agustus 2026 - 04:30 WIB

Dubes Australia Apresiasi Kolaborasi Pemkot Kupang dan UNICEF dalam Penanganan Anak Zero-Dose

30 Juli 2026 - 15:52 WIB

Tarian Wisisi Warnai Jalanan Kupang, Aksi Galang Dana FOKMAP-NTT Tuai Simpati Warga

16 Juli 2026 - 15:28 WIB

Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat

21 Juni 2026 - 15:21 WIB

Trending di Nasional