Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Suara Mahasiswa

Buruh Informal di Kupang Terabaikan, LMND Siapkan Aksi Jelang Hari Buruh Internasional

badge-check


					Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Kupang, Meki Maubanu. Foto:Dok. Yanto/ Perbesar

Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Kupang, Meki Maubanu. Foto:Dok. Yanto/

Selain upah rendah, jam kerja buruh juga dinilai melampaui batas ketentuan. Jika aturan menetapkan 8 jam kerja per hari, realitas di lapangan menunjukkan banyak buruh bekerja hingga 10 jam bahkan 14–15 jam per hari. “Ini sudah masuk kategori eksploitasi tenaga kerja,” tegas Meki dalam wawancara tersebut.

LMND menilai buruh informal merupakan kelompok paling rentan terhadap ketidakadilan. Mereka bekerja di sektor yang tidak berbadan hukum dan tidak memiliki kontrak kerja yang jelas. Dalam investigasi juga ditemukan adanya kekerasan psikologis, minimnya perhatian pengusaha terhadap pekerja, serta orientasi pengusaha yang lebih fokus pada alat produksi dibanding kesejahteraan manusia.

Sebagai langkah lanjutan, LMND Kota Kupang berencana melakukan aksi bersama buruh yang telah mereka konsolidasikan. Aksi ini akan diarahkan hingga tahap audiensi dengan pemerintah daerah.

Beberapa tuntutan utama yang akan dibawa antara lain penetapan standar upah bagi buruh informal, pengawasan ketat terhadap jam kerja, jaminan sosial bagi seluruh buruh, serta pembentukan tim khusus pengawas ketenagakerjaan. “Kami ingin pemerintah hadir, bukan hanya untuk buruh formal, tetapi juga buruh informal yang jumlahnya jauh lebih besar di Kupang,” kata Meki dalam wawancara tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah

27 Mei 2026 - 15:27 WIB

Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang

25 Mei 2026 - 14:58 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

DPW PAN NTT Resmi Dilantik, Zulkifli Hasan Tekankan Keberpihakan pada Rakyat

15 Mei 2026 - 16:13 WIB

Trending di Politik & Hukum