Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Suara Mahasiswa

Buruh Informal di Kupang Terabaikan, LMND Siapkan Aksi Jelang Hari Buruh Internasional

badge-check


					Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Kupang, Meki Maubanu. Foto:Dok. Yanto/ Perbesar

Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Kupang, Meki Maubanu. Foto:Dok. Yanto/

Selain upah rendah, jam kerja buruh juga dinilai melampaui batas ketentuan. Jika aturan menetapkan 8 jam kerja per hari, realitas di lapangan menunjukkan banyak buruh bekerja hingga 10 jam bahkan 14–15 jam per hari. “Ini sudah masuk kategori eksploitasi tenaga kerja,” tegas Meki dalam wawancara tersebut.

LMND menilai buruh informal merupakan kelompok paling rentan terhadap ketidakadilan. Mereka bekerja di sektor yang tidak berbadan hukum dan tidak memiliki kontrak kerja yang jelas. Dalam investigasi juga ditemukan adanya kekerasan psikologis, minimnya perhatian pengusaha terhadap pekerja, serta orientasi pengusaha yang lebih fokus pada alat produksi dibanding kesejahteraan manusia.

Sebagai langkah lanjutan, LMND Kota Kupang berencana melakukan aksi bersama buruh yang telah mereka konsolidasikan. Aksi ini akan diarahkan hingga tahap audiensi dengan pemerintah daerah.

Beberapa tuntutan utama yang akan dibawa antara lain penetapan standar upah bagi buruh informal, pengawasan ketat terhadap jam kerja, jaminan sosial bagi seluruh buruh, serta pembentukan tim khusus pengawas ketenagakerjaan. “Kami ingin pemerintah hadir, bukan hanya untuk buruh formal, tetapi juga buruh informal yang jumlahnya jauh lebih besar di Kupang,” kata Meki dalam wawancara tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa