Ia menambahkan bahwa landasan PAN adalah Pancasila dan moral kemanusiaan. “Cinta kami melebihi toleransi. Cinta kepada manusia, lingkungan, pohon, laut, dan hewan. PAN lahir sebagai koreksi untuk meluruskan cita-cita kemerdekaan sesuai UUD 1945 Pasal 33, yaitu ekonomi yang berkeadilan.”
Zulkifli mengkritik kebijakan pasar bebas selama 30 tahun reformasi yang gagal mewujudkan swasembada beras karena lebih mengutamakan hitungan makroekonomi daripada keberpihakan pada rakyat.
”Kami mendukung Prabowo Subianto tiga kali kalah sebelum menang, dengan komitmen berpihak pada rakyat. Contoh nyatanya harga gabah. Selama puluhan tahun, harga gabah hanya Rp4.000–Rp5.000 dengan syarat kadar air ketat, sehingga petani hanya menerima Rp3.000–Rp3.500. Saat kami berkuasa, kami naikkan harga beli di tingkat petani menjadi Rp6.500 tanpa mempersulit soal kadar air. Dampaknya? Produksi padi naik 3 persen dan stok beras kita surplus 4,2 juta ton pada 2025, hingga impor beras nol. Nilai tukar petani pun naik,” paparnya.
Terakhir, Zulkifli menyoroti nasib nelayan NTT. Ia menyebut harga ikan kombong di pasar hanya Rp25.000 per ember, sangat merugikan nelayan yang mengeluarkan biaya solar dan tenaga.
”Negara harus hadir. Kita bangun kampung nelayan, pabrik pengolahan, dan tempat pelelangan ikan. Jika ikan tidak laku, bisa disimpan. Kita bentuk Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kelurahan Merah Putih yang akan membeli ikan dengan harga acuan. Inilah yang disebut keberpihakan ekonomi,” tutup Zulkifli Hasan.**
Kontributor: Yanto









