Sementara itu, pemantik lainnya, Charin Sae, menilai persoalan utama MBG perlu dilihat dari dua sisi, yakni kebijakan dan pengelolaannya.
“Menurut saya, program MBG sebenarnya bagus. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana program tersebut dikelola dan diimplementasikan,” kata Charin.
Ia juga menyoroti kasus keracunan yang terjadi dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, kejadian tersebut perlu menjadi bahan evaluasi terhadap kualitas makanan, pengawasan dan penanganan di lapangan.
Charin kemudian mengajak peserta melihat pengalaman pelaksanaan MBG di daerah masing-masing karena setiap wilayah memiliki persoalan dan kondisi yang berbeda.
“Setiap daerah pasti memiliki cerita yang berbeda dalam pelaksanaan MBG. Karena itu, kita perlu melihat pengalaman di daerah masing-masing,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, sejumlah peserta juga menyampaikan pandangan yang berbeda. Melianus F.M. Amtiran menilai persoalan MBG tidak dapat dilepaskan dari kondisi politik dan sistem pemerintahan yang berjalan saat ini.
Menurutnya, pembangunan pendidikan harus tetap menjadi perhatian utama meskipun MBG dinilai mampu membuka lapangan pekerjaan.
“MBG memang bisa menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi pembangunan pendidikan tetap lebih penting karena berkaitan dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya.












