Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Suara Mahasiswa

Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang

badge-check


					Foto Bersama FOKMAP-NTT Usai kegiatan. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama FOKMAP-NTT Usai kegiatan. Foto: Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – Forum Komunikasi Mahasiswa Papua Nusa Tenggara Timur (FOKMAP-NTT) merayakan Dies Natalis ke-IX di Lasiana, Kota Kupang, pada Senin (25/5/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Membawa Kita Bertumbuh Bersama, Melestarikan Identitas Budaya, dan Memperkuat Peran Pelajar Generasi Papua yang Unggul di Era Digital”. Acara tersebut dihadiri tokoh agama, para senior, anggota aktif, serta tamu undangan dari berbagai organisasi kemahasiswaan di NTT.

Kegiatan dibuka dengan ibadah syukur yang dipimpin oleh Pdt. Jeheskia Ngadirun, S.Th. Suasana berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan sebagai bentuk refleksi perjalanan organisasi selama sembilan tahun dalam mempererat solidaritas mahasiswa Papua di tanah rantau.

Dalam renungannya, Pdt. Jeheskia Ngadirun menyampaikan pentingnya budaya gotong royong dan saling melayani. Ia mengingat pengalamannya menghadiri kegiatan serupa di Jayapura pada tahun 1999, di mana nilai kebersamaan sangat terasa.

“Budaya seperti bakar batu tidak bisa dilakukan sendirian; harus ada gotong royong, ada yang memotong, ada yang menyiapkan, dan lain-lain. Ini adalah budaya kebersamaan yang perlu dilestarikan. Rasa kebersamaan inilah yang menjadi berkat bagi kita,” ujar Pdt. Jeheskia.

Ia juga menyinggung tema era digital yang menurutnya harus dimanfaatkan dengan baik oleh generasi muda Papua untuk memperkuat organisasi, bukan menjadi penyebab perpecahan.

“Tuhan memerintahkan kita untuk saling melayani sesuai dengan karunia masing-masing. Jangan mengambil fungsi atau posisi orang lain, tetapi biarkan setiap orang berjalan sesuai tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Jika kita melakukan ini dengan kerendahan hati, maka kerukunan akan tercipta dan berkat Tuhan akan terus mengalir,” jelasnya.

Pdt. Jeheskia juga mengingatkan agar setiap anggota organisasi tidak hanya pandai mengkritik tanpa memberi solusi atau kontribusi.

“Hati-hati dengan sikap seperti itu karena dapat menghambat perkembangan organisasi. Mari kita bangun bersama, bekerja sama, dan saling mendukung dengan kerendahan hati. Salah satu bukti berkat Tuhan adalah kita masih bisa berkumpul di usia ke-9 ini dengan kesehatan, kekompakan, dan kepengurusan yang berfungsi baik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah

27 Mei 2026 - 15:27 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

GMKI Kupang Kecam Represivitas Aparat dalam Aksi Cipayung Plus, Janjikan Aksi Jilid III ‎

15 Mei 2026 - 11:17 WIB

Koordinator Lapangan Aksi May Day dan Hardiknas FMN Kupang Tuntut Keadilan Buruh dan Pendidikan

4 Mei 2026 - 16:56 WIB

FMN Kupang Gelar Aksi May Day dan Hardiknas, Soroti Isu Buruh dan Pendidikan

4 Mei 2026 - 13:02 WIB

Trending di Headline