Sementara itu, Ketua FOKMAP-NTT, Yoyakim Yando, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada para pendeta, alumni, senior, dan seluruh panitia yang telah mendukung kegiatan tersebut. Ia mengatakan FOKMAP-NTT merupakan wadah belajar kepemimpinan bagi mahasiswa Papua di NTT.
“FOKMAP-NTT sebenarnya adalah wadah yang diberikan oleh orang tua dan kakak-kakak kami untuk belajar kepemimpinan. Namun, kadang ego kedaerahan masih muncul. Hari ini hari yang bahagia, tapi saya perhatikan masih banyak mahasiswa Papua yang tidak hadir. Ini perlu jadi perhatian agar ke depannya kita bisa lebih kompak di rantau,” ujar Yoyakim.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan biaya demi suksesnya kegiatan Dies Natalis ke-IX tersebut.
“Kami tidak bisa membalas budi baik kalian, tetapi kami percaya Tuhan Yesus akan memberkati. Mohon maaf jika ada kekurangan dalam kegiatan ini. Semoga ini menjadi pelajaran untuk perbaikan ke depannya,” tambahnya.
Pendeta Baber Siep Karoba, S.Th., dalam pesannya menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman mahasiswa Papua di NTT. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak melupakan Tuhan sebagai sumber keberhasilan.
“Selama kita mengikuti pendidikan di sini, kita harus ingat bahwa kita milik Tuhan. Di surga nanti, tidak ada lagi sekat gereja, suku, atau daerah. Yang ada hanya orang-orang percaya kepada Yesus. Jadi, jangan beda-bedakan suku. Saya tidak ingin ada kelompok-kelompok kecil yang memecah belah. Mari kita bersatu. Kalau kita jalan bersama, duduk bersama, dan menangis bersama, baru Papua bisa bangkit. Kita punya satu Tuhan,” tegas Pdt. Baber.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk menghargai perjuangan orang tua di kampung yang bekerja keras demi pendidikan anak-anak mereka.
“Ingatlah orang tua di kampung yang naik turun gunung, menahan susah demi kita bisa sekolah di sini. Mari kita hargai itu dengan tetap bersatu,” tutupnya.












