KupangTimurInsight, Kota Kupang – Yayasan PIKUL menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film yang berjudul “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang pemutaran film, melainkan sebagai ruang refleksi untuk memahami situasi yang tengah terjadi di Papua saat ini. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi sejumlah pihak, antara lain Jubi.id, Pusaka, Watchdoc, LBH Papua Merauke dan Yayasan PIKUL. Acara tersebut menarik perhatian publik dan berlangsung dengan penuh khidmat.
Usai pemutaran, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama narasumber Adriana Nomleni dari Yayasan PIKUL. Dalam diskusi, ia menegaskan bahwa terdapat relasi yang erat antara manusia dan alam yang sarat dengan berbagai pemaknaan.
“Hutan memiliki keanekaragaman hayati yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Lebih dari itu, hutan juga memiliki relasi spiritual. Jika hutan dirusak, maka relasi manusia dengan Tuhan dan leluhur pun akan hilang,” ujarnya di Kantor Yayasan PIKUL, Fatululi, Kota Kupang, Jumat (17/04/2026).
Menurutnya, model pembangunan yang berjalan saat ini justru mendorong hubungan manusia dan alam menjadi semakin tidak harmonis. “Berdasarkan riset yang ditemukan, pola yang terjadi cenderung sama,”jelasnya.











