Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

News

Pembatasan Wisata di Taman Nasional Komodo Dikritik, WALHI NTT Sebut Berpotensi Picu Ketimpangan Baru

badge-check


					Direktur WALHI NTT, Yuvensius Stefanus Nonga. Foto: Dok. Walhi NTT/ Perbesar

Direktur WALHI NTT, Yuvensius Stefanus Nonga. Foto: Dok. Walhi NTT/

KupangTimurInsight, Kota Kupang – Kebijakan pemerintah membatasi jumlah kunjungan wisatawan hingga 1.000 orang per hari di Taman Nasional Komodo menuai sorotan dari WALHI NTT. Kritik tersebut disampaikan Direktur WALHI NTT, Yuvensius Stefanus Nonga, melalui rilis resmi yang diterima di Kupang pada 18 April 2026.

Dalam keterangannya, Yuvensius menyebut kebijakan pembatasan tersebut tidak dapat dipisahkan dari model pembangunan pariwisata yang sejak awal eksploitatif serta mengabaikan daya dukung lingkungan dan keadilan sosial. Ia menilai, lonjakan kunjungan wisata yang kini dijadikan alasan pembatasan merupakan konsekuensi dari kebijakan negara yang mendorong Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super prioritas.

“Pembangunan infrastruktur besar-besaran, promosi masif, hingga pembukaan ruang investasi telah menciptakan tekanan berlebih terhadap ekosistem kawasan,” ujarnya dalam rilis tersebut.

Menurutnya, alih-alih mencegah krisis ekologis, kebijakan pembatasan justru berpotensi memindahkan beban persoalan kepada publik. Ia menilai skema ini dapat melahirkan bentuk baru ketimpangan, terutama jika diikuti dengan kenaikan harga tiket dan dominasi operator wisata skala besar.

“Pembatasan berisiko mengarah pada pariwisata eksklusif yang hanya dapat diakses kelompok tertentu,” tegas Yuvensius.

Ia juga menyoroti dampak langsung terhadap masyarakat lokal yang selama ini bergantung pada aktivitas pariwisata dan kawasan konservasi. Nelayan, pemandu wisata lokal, serta pelaku usaha kecil disebut sebagai kelompok paling rentan terdampak akibat berkurangnya jumlah kunjungan tanpa adanya jaminan perlindungan yang memadai dari negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KPA NTT Dorong Penyelesaian Konflik dan Pengakuan Hak atas Tanah Masyarakat

8 Agustus 2026 - 09:20 WIB

Dubes Australia Apresiasi Kolaborasi Pemkot Kupang dan UNICEF dalam Penanganan Anak Zero-Dose

30 Juli 2026 - 15:52 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Trending di Suara Mahasiswa