Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

News

Pembatasan Wisata di Taman Nasional Komodo Dikritik, WALHI NTT Sebut Berpotensi Picu Ketimpangan Baru

badge-check


					Direktur WALHI NTT, Yuvensius Stefanus Nonga. Foto: Dok. Walhi NTT/ Perbesar

Direktur WALHI NTT, Yuvensius Stefanus Nonga. Foto: Dok. Walhi NTT/

Lebih lanjut, Yuvensius menilai pendekatan konservasi yang diterapkan masih bersifat teknokratis dan belum menyentuh akar persoalan. Pembatasan berbasis kuota, kata dia, tidak akan efektif tanpa pengendalian terhadap ekspansi industri pariwisata, termasuk aktivitas kapal wisata massal dan investasi besar yang selama ini menjadi sumber utama tekanan ekologis.

Ia mengingatkan bahwa konservasi yang tidak berbasis keadilan berpotensi menjadi bentuk baru perampasan ruang hidup dengan legitimasi lingkungan. “Pembatasan akses atas nama perlindungan alam, tanpa pengakuan dan perlindungan hak masyarakat lokal, justru akan memperkuat ketimpangan dan konflik sosial-ekologis,” tambahnya.

Melalui rilis tersebut, WALHI NTT mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan dan proyek pariwisata di kawasan Taman Nasional Komodo. Pemerintah juga diminta memastikan masyarakat lokal menjadi subjek utama dalam pengelolaan kawasan, serta mengendalikan secara ketat aktivitas industri yang berkontribusi terhadap tekanan lingkungan.

WALHI NTT menegaskan, pembatasan wisata tidak boleh dijadikan solusi instan atas krisis yang dihasilkan oleh kebijakan pembangunan itu sendiri. Tanpa perubahan mendasar, kebijakan tersebut dinilai hanya akan memindahkan masalah sekaligus memperdalam ketimpangan.

Kontributor : Yanto

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi