Sementara itu, Horiana Yolanda dari WALHI NTT menyoroti kerentanan ekologis NTT yang dipengaruhi oleh kondisi geografis wilayah tersebut. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa berbagai proyek pembangunan berskala besar, mulai dari infrastruktur, pariwisata berbasis investasi, perkebunan monokultur, pertambangan, proyek panas bumi, hingga industri tambak garam, terus berkembang di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata. Menurutnya, ekspansi pembangunan tersebut belum mampu menjawab akar persoalan krisis iklim dan justru memperbesar tekanan terhadap ruang hidup masyarakat, terutama perempuan.
Pembicara ketiga, Linda Tagie dari Solidaritas Perempuan Flobamoratas, membahas berbagai bentuk perlawanan perempuan dalam menghadapi krisis yang terus berlangsung. Ia menjelaskan bahwa perempuan tidak hanya menghadapi dampak langsung dari krisis iklim, tetapi juga berbagai bentuk diskriminasi yang membatasi partisipasi mereka dalam ruang publik dan proses pengambilan keputusan. Menurutnya, suara perempuan kerap dipinggirkan ketika mereka menyampaikan kritik terhadap proyek-proyek yang dianggap mengancam tanah, air, pangan, dan ruang hidup masyarakat.
Linda juga menyoroti minimnya pelibatan perempuan dalam proses pembangunan yang dinilai berkontribusi terhadap lahirnya kebijakan yang tidak responsif gender. Dalam paparannya, ia mengaitkan kondisi tersebut dengan berbagai regulasi yang menurutnya berpotensi mempersempit ruang partisipasi publik serta meningkatkan risiko pelanggaran hak asasi manusia dan kerusakan lingkungan. Situasi tersebut, menurutnya, semakin memperbesar kerentanan perempuan pembela HAM dan lingkungan yang berada di garis depan perjuangan mempertahankan sumber-sumber kehidupan komunitas.
Melalui webinar ini, Solidaritas Perempuan Flobamoratas menegaskan bahwa krisis iklim tidak dapat dipisahkan dari persoalan keadilan sosial, keadilan gender, dan arah pembangunan yang dijalankan. Organisasi tersebut mendorong agar perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang pengetahuan, pengalaman, dan kepentingannya diakui serta dilibatkan secara penuh dalam setiap proses pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, menurut penyelenggara, menjadi momentum untuk merefleksikan kembali kondisi lingkungan hidup di NTT sekaligus memperkuat perhatian terhadap perlindungan ruang hidup perempuan yang dinilai semakin terancam oleh dampak krisis iklim dan ekspansi pembangunan ekstraktif.**
Kontributor: Yanto












