Akademisi UNWIRA: Koperasi Desa Jangan Jadi ‘Tangan Besi’ Kapitalisme
Sementara itu, Akademisi dan Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan (UNWIRA), Emanuel Kosat, mencoba membedah relasi antara koperasi dan kapitalisme.
”Saya akan mencoba mengambil satu judul pembahasan untuk menjawab pertanyaan mengenai relasi antara koperasi dan ‘tangan besi’ kapitalisme,” tegasnya.
Emanuel mengibaratkan pemimpin yang baik layaknya seorang bapak yang tidak hanya memberi kepada anaknya (rakyat/konstituen), tetapi juga mengelola aset dengan bijak. Sayangnya, ia menilai banyak pengelola yang bertindak amatir. Hal ini mengingatkan pada konsep pembagian kekuasaan (division of power) dan sejarah sosial di Inggris.
Ia menjelaskan bahwa koperasi lahir sebagai respons terhadap Revolusi Industri di Inggris, dipelopori oleh tokoh seperti Robert Owen. Koperasi muncul karena kapitalisme yang tak terkendali telah menghilangkan rasa kemanusiaan, di mana tetangga tidak lagi peduli pada tetangganya.
”Koperasi berusaha mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan tersebut,” ujarnya.
Namun, Emanuel menyayangkan kondisi saat ini di mana kebijakan ‘Koperasi Desa’ justru sering menampilkan wajah ‘tangan besi’. Kebijakan tersebut terasa memaksakan kehendak dan berpotensi hanya menguntungkan elit ekonomi tertinggi, mirip dengan situasi ‘Demokrasi Terpimpin’.
”Ini bukan lagi tentang pemberdayaan, melainkan kontrol. Kita bisa melihat bahwa figur-figur otoritas di desa-desa seluruh Indonesia sering kali tidak benar-benar hadir untuk menyejahterakan rakyat, melainkan terjebak dalam birokrasi,” kritiknya.











