Direktur Bengkel APPEK: Koperasi Merah Putih Masih Imajinasi Tanpa Tata Kelola Baik
Senada dengan kritik tersebut, Direktur Bengkel APPEK, Vensensiun Bureni, menyoroti masalah mendasar dalam implementasi koperasi saat ini. Meskipun kantor fisik dan mekanisme logistik sudah ada, ia mempertanyakan siapa sebenarnya penerima manfaat dari koperasi tersebut jika dana desa dialokasikan untuknya.
”Situasinya sekarang, kantor sudah ada dan mekanisme pengangkutan juga sudah berjalan. Namun, pertanyaan mendasarnya tetap muncul: Jika dana desa dipotong atau dialokasikan untuk koperasi, lantas koperasi itu sebenarnya untuk siapa?” tanyanya.
Vensensiun menilai bahwa ‘Koperasi Merah Putih’ saat ini masih berupa imajinasi karena tata kelolanya yang belum benar. Ia khawatir ada ‘tangan tak terlihat’ yang memungkinkan kelompok elit kembali menguasai koperasi.
”Dampaknya, kelompok yang paling rentan akan semakin tersingkir, terutama perempuan, penyandang disabilitas, serta mereka yang gagap teknologi,” ujarnya.
Menurut Vensensiun, manajemen pengelolaan yang buruk akibat kurangnya pengetahuan menjadi masalah utama, diperparah oleh gesekan kepentingan di tingkat desa. Sering kali, keputusan politik sepihak dari pemerintah menentukan alokasi dana.
”Dana desa yang seharusnya memberdayakan masyarakat justru habis digunakan untuk biaya manajemen atau operasional tanpa bukti pertanggungjawaban yang jelas. Akibatnya, esensi pemberdayaan hilang dan hanya menyisakan pemborosan anggaran,” pungkasnya.
Diskusi ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada tiga pemateri dan satu moderator sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam kegiatan tersebut, serta penandatanganan berita acara oleh para pemateri.**
Kontributor: Yanto











