Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Suara Mahasiswa

FMN Kupang Tolak Rencana Pembangunan SPPG di Undana, Soroti Dampak Pendidikan hingga Kebebasan Akademik

badge-check


					Ketua FMN Cabang Kupang,Yorius Ama Makin.Foto:Dok.Yanto Perbesar

Ketua FMN Cabang Kupang,Yorius Ama Makin.Foto:Dok.Yanto

Selain persoalan pendidikan, FMN juga mengkhawatirkan dampak program tersebut terhadap kebebasan akademik dan demokrasi kampus. Menurut Yorius, penerapan MBG dan SPPG di perguruan tinggi berpotensi membuka ruang keterlibatan unsur militer di lingkungan kampus.

Ia menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi independensi ruang akademik yang selama ini menjadi bagian
penting dalam kehidupan perguruan tinggi.

FMN juga menyoroti pelaksanaan program serupa di sejumlah kampus lain, seperti di Makassar dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Berdasarkan informasi yang mereka peroleh, pelaksanaan program tersebut melibatkan mahasiswa dan karyawan kampus sebagai tenaga pelaksana.

Menurut Yorius, keterlibatan mahasiswa dalam pelaksanaan program tidak dapat dipandang sebagai bentuk pemberdayaan semata. FMN menilai hal tersebut berpotensi menimbulkan eksploitasi tenaga mahasiswa.

“Bagi kami, itu merupakan bentuk pemanfaatan tenaga mahasiswa yang perlu dikritisi secara serius,” katanya.

Lebih lanjut, Yorius menegaskan bahwa FMN tidak menolak pentingnya pemenuhan gizi bagi masyarakat. Namun, organisasi tersebut mempertanyakan pelaksanaan program yang dinilai masih menyisakan berbagai persoalan, mulai dari kesalahan operasional hingga dugaan penyimpangan dalam pelaksanaannya.

Ia berpendapat bahwa program tersebut tidak boleh dijalankan dengan cara yang berpotensi merugikan masyarakat maupun mengabaikan persoalan mendasar yang dihadapi rakyat.

“Pemenuhan gizi memang penting, tetapi harus dilakukan melalui kebijakan yang tepat dan tidak menimbulkan persoalan baru,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa