KupangTimurInsight, Kupang— Koordinator Lapangan aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Ucil Borjuasi, menyampaikan latar belakang aksi saat diwawancarai pada Senin (4/5/2026).
Ucil menjelaskan bahwa aksi tersebut dipicu oleh situasi global yang berdampak pada kondisi dalam negeri, khususnya terhadap kaum buruh dan tani. Ia menilai kondisi ini berkaitan dengan eskalasi konflik di Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Situasi geopolitik ini berdampak langsung pada Indonesia. Akibat peperangan, produksi yang seharusnya didistribusikan ke luar negeri mengalami penumpukan. Dampak lanjutannya adalah terjadinya PHK massal besar-besaran di Indonesia, khususnya di sektor perusahaan otomotif dan tekstil,” ujarnya.
Di sektor pendidikan, massa aksi menuntut pengembalian dan realisasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen sesuai amanat undang-undang. Ucil juga menyoroti adanya pemotongan anggaran pendidikan sebesar Rp233 triliun yang dinilai membuat biaya pendidikan semakin mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat miskin.
“Momentum May Day dan Hardiknas dipilih karena keduanya memiliki sejarah panjang perjuangan. May Day mencatat bagaimana buruh di seluruh dunia menuntut jam kerja dan upah layak. Sejarah ini perlu dipertahankan karena hari ini buruh di Indonesia masih menghadapi jam kerja tinggi dengan upah di bawah UMP,” jelasnya.











