Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Suara Mahasiswa

Koordinator Lapangan Aksi May Day dan Hardiknas FMN Kupang Tuntut Keadilan Buruh dan Pendidikan

badge-check


					Koordinator Lapangan aksi FMN peringatan May Day dan Hardiknas, Ucil Borjuasi. Foto: Dok. Pribadi/ Perbesar

Koordinator Lapangan aksi FMN peringatan May Day dan Hardiknas, Ucil Borjuasi. Foto: Dok. Pribadi/

Sementara itu, Ketua PERMMABAR, Gregorius Jehan, yang turut hadir dalam aksi, menyampaikan empat poin tuntutan tambahan.

Ia mengatakan bahwa penetapan Pulau Flores sebagai pulau panas bumi harus dicabut. Selain itu, ia juga mendesak pencabutan kebijakan suplemen karena dinilai tidak melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan dan berpotensi berdampak pada perekonomian.

“Kebijakan-kebijakan ini kami tolak karena sejak tahap perencanaan tidak ada audiensi atau keterlibatan masyarakat. Jika dilanjutkan, akan berdampak buruk pada perekonomian masyarakat, apalagi di tengah efisiensi anggaran pendidikan,” ujarnya.

Gregorius juga menyoroti kondisi pendidikan di Kabupaten Manggarai Timur, di mana terdapat pelajar yang terpaksa belajar di luar kelas akibat keterbatasan fasilitas.

“Ini merupakan tamparan keras bagi siswa, khususnya untuk gedung SD dan SMP. Kondisi ini menjadi bukti nyata kegagalan pemenuhan hak dasar pendidikan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan penolakan terhadap pembatasan hak-hak buruh serta menilai pemerintah daerah semakin menjauh dari rakyat.

Terkait proses dialog, Gregorius menilai negara cenderung mengabaikan masyarakat. Oleh karena itu, aliansi menyatakan akan terus melakukan aksi hingga kebijakan tersebut ditinjau kembali.

“Kami tidak akan diam dan tidak akan dibungkam oleh kondisi apa pun,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa akan terus berdiri bersama kaum buruh dan tani untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

“Negara hari ini lebih mementingkan kepentingan elit dibandingkan kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah

27 Mei 2026 - 15:27 WIB

Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang

25 Mei 2026 - 14:58 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi