Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Suara Mahasiswa

Koordinator Lapangan Aksi May Day dan Hardiknas FMN Kupang Tuntut Keadilan Buruh dan Pendidikan

badge-check


					Koordinator Lapangan aksi FMN peringatan May Day dan Hardiknas, Ucil Borjuasi. Foto: Dok. Pribadi/ Perbesar

Koordinator Lapangan aksi FMN peringatan May Day dan Hardiknas, Ucil Borjuasi. Foto: Dok. Pribadi/

Sementara itu, Ketua PERMMABAR, Gregorius Jehan, yang turut hadir dalam aksi, menyampaikan empat poin tuntutan tambahan.

Ia mengatakan bahwa penetapan Pulau Flores sebagai pulau panas bumi harus dicabut. Selain itu, ia juga mendesak pencabutan kebijakan suplemen karena dinilai tidak melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan dan berpotensi berdampak pada perekonomian.

“Kebijakan-kebijakan ini kami tolak karena sejak tahap perencanaan tidak ada audiensi atau keterlibatan masyarakat. Jika dilanjutkan, akan berdampak buruk pada perekonomian masyarakat, apalagi di tengah efisiensi anggaran pendidikan,” ujarnya.

Gregorius juga menyoroti kondisi pendidikan di Kabupaten Manggarai Timur, di mana terdapat pelajar yang terpaksa belajar di luar kelas akibat keterbatasan fasilitas.

“Ini merupakan tamparan keras bagi siswa, khususnya untuk gedung SD dan SMP. Kondisi ini menjadi bukti nyata kegagalan pemenuhan hak dasar pendidikan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan penolakan terhadap pembatasan hak-hak buruh serta menilai pemerintah daerah semakin menjauh dari rakyat.

Terkait proses dialog, Gregorius menilai negara cenderung mengabaikan masyarakat. Oleh karena itu, aliansi menyatakan akan terus melakukan aksi hingga kebijakan tersebut ditinjau kembali.

“Kami tidak akan diam dan tidak akan dibungkam oleh kondisi apa pun,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa akan terus berdiri bersama kaum buruh dan tani untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

“Negara hari ini lebih mementingkan kepentingan elit dibandingkan kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LMID Eksekutif Kota Kupang: Kongres XII Harus Jadi Momentum Kebangkitan Gerakan Kaum Muda

8 Agustus 2026 - 04:30 WIB

Tarian Wisisi Warnai Jalanan Kupang, Aksi Galang Dana FOKMAP-NTT Tuai Simpati Warga

16 Juli 2026 - 15:28 WIB

Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat

21 Juni 2026 - 15:21 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik

11 Juni 2026 - 14:40 WIB

Trending di Suara Mahasiswa