Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Suara Mahasiswa

Koordinator Lapangan Aksi May Day dan Hardiknas FMN Kupang Tuntut Keadilan Buruh dan Pendidikan

badge-check


					Koordinator Lapangan aksi FMN peringatan May Day dan Hardiknas, Ucil Borjuasi. Foto: Dok. Pribadi/ Perbesar

Koordinator Lapangan aksi FMN peringatan May Day dan Hardiknas, Ucil Borjuasi. Foto: Dok. Pribadi/

Sementara itu, Ketua PERMMABAR, Gregorius Jehan, yang turut hadir dalam aksi, menyampaikan empat poin tuntutan tambahan.

Ia mengatakan bahwa penetapan Pulau Flores sebagai pulau panas bumi harus dicabut. Selain itu, ia juga mendesak pencabutan kebijakan suplemen karena dinilai tidak melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan dan berpotensi berdampak pada perekonomian.

“Kebijakan-kebijakan ini kami tolak karena sejak tahap perencanaan tidak ada audiensi atau keterlibatan masyarakat. Jika dilanjutkan, akan berdampak buruk pada perekonomian masyarakat, apalagi di tengah efisiensi anggaran pendidikan,” ujarnya.

Gregorius juga menyoroti kondisi pendidikan di Kabupaten Manggarai Timur, di mana terdapat pelajar yang terpaksa belajar di luar kelas akibat keterbatasan fasilitas.

“Ini merupakan tamparan keras bagi siswa, khususnya untuk gedung SD dan SMP. Kondisi ini menjadi bukti nyata kegagalan pemenuhan hak dasar pendidikan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan penolakan terhadap pembatasan hak-hak buruh serta menilai pemerintah daerah semakin menjauh dari rakyat.

Terkait proses dialog, Gregorius menilai negara cenderung mengabaikan masyarakat. Oleh karena itu, aliansi menyatakan akan terus melakukan aksi hingga kebijakan tersebut ditinjau kembali.

“Kami tidak akan diam dan tidak akan dibungkam oleh kondisi apa pun,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa akan terus berdiri bersama kaum buruh dan tani untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

“Negara hari ini lebih mementingkan kepentingan elit dibandingkan kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa