Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Suara Mahasiswa

LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua

badge-check


					Yali Frayon. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Yali Frayon. Foto: Dok. Yanto/

‎Sebagai organisasi yang ideologi gerakan kiri, LMID berkomitmen membangun kesadaran politik di kalangan mahasiswa. Tujuannya adalah mendiskusikan dan membangun aliansi dengan kaum buruh, aktivis, dan elemen masyarakat lain yang hak-hak kesejahteraannya sering diabaikan. “Kita mendorong agar mereka juga mendapatkan hak yang sama seperti kelompok lainnya,” tegas Yali Faryon.
‎
‎Strategi utama yang ditempuh LMID adalah turun langsung ke ranah masyarakat yang mengalami keresahan akibat ketidakadilan. “Mereka yang sering mengalami itu, kita adakan pendekatan. Melalui mereka, kita bersatu dan berjuang bersama sehingga mereka bisa mendapatkan hak-hak mereka,” jelasnya.
‎
‎Menurut Yali Faryon, tantangan terbesar yang dihadapi mahasiswa Papua di tanah rantau adalah dualisme antara fokus akademik dan aktivitas pergerakan. Mereka berjuang berdiskusi dalam organisasi-organisasi gerakan kiri untuk menuntut hak-hak yang sering dibungkam. Namun, hal ini sering mengalami kemunduran akibat tekanan dari “orang ketiga”, seperti aparat intelijen, yang tidak menyukai adanya protes.
‎
‎”Faktor intimidasi ini membuat kemunduran bagi mahasiswa Papua di Kota Kupang. Oleh karena itu, komitmen kita adalah mahasiswa Papua harus adanya diskusi. Melalui diskusi itu, kita ketahui bersama perilaku negara hari ini, sehingga kita bisa menangkan isu-isu yang ada di Papua dan NTT, misalnya adanya pembungkaman dalam bentuk apapun,” serunya.
‎
‎Untuk memperkuat posisi tawar, LMID berencana membangun hubungan erat dengan organisasi lain melalui isu-isu konkret atau kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Antisipasi dilakukan dengan membangun aliansi antar-organisasi gerakan untuk saling mendukung, membela, dan melakukan advokasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh warga.
‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa