Sebagai organisasi yang ideologi gerakan kiri, LMID berkomitmen membangun kesadaran politik di kalangan mahasiswa. Tujuannya adalah mendiskusikan dan membangun aliansi dengan kaum buruh, aktivis, dan elemen masyarakat lain yang hak-hak kesejahteraannya sering diabaikan. “Kita mendorong agar mereka juga mendapatkan hak yang sama seperti kelompok lainnya,” tegas Yali Faryon.
Strategi utama yang ditempuh LMID adalah turun langsung ke ranah masyarakat yang mengalami keresahan akibat ketidakadilan. “Mereka yang sering mengalami itu, kita adakan pendekatan. Melalui mereka, kita bersatu dan berjuang bersama sehingga mereka bisa mendapatkan hak-hak mereka,” jelasnya.
Menurut Yali Faryon, tantangan terbesar yang dihadapi mahasiswa Papua di tanah rantau adalah dualisme antara fokus akademik dan aktivitas pergerakan. Mereka berjuang berdiskusi dalam organisasi-organisasi gerakan kiri untuk menuntut hak-hak yang sering dibungkam. Namun, hal ini sering mengalami kemunduran akibat tekanan dari “orang ketiga”, seperti aparat intelijen, yang tidak menyukai adanya protes.
”Faktor intimidasi ini membuat kemunduran bagi mahasiswa Papua di Kota Kupang. Oleh karena itu, komitmen kita adalah mahasiswa Papua harus adanya diskusi. Melalui diskusi itu, kita ketahui bersama perilaku negara hari ini, sehingga kita bisa menangkan isu-isu yang ada di Papua dan NTT, misalnya adanya pembungkaman dalam bentuk apapun,” serunya.
Untuk memperkuat posisi tawar, LMID berencana membangun hubungan erat dengan organisasi lain melalui isu-isu konkret atau kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Antisipasi dilakukan dengan membangun aliansi antar-organisasi gerakan untuk saling mendukung, membela, dan melakukan advokasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh warga.












