Menurutnya, peringatan Hari Kartini setiap tahunnya tidak boleh sekadar terjebak pada sejarah yang hanya menjadi ikon perjuangan tanpa aksi nyata. Esensi utamanya adalah bagaimana mentransformasi spirit perjuangan Kartini ke dalam sektor pendidikan, akses publik, dan penghapusan diskriminasi.
”Lalu untuk hari ini apa yang dapat kita lakukan atau masih relevan? Saya pikir relevansinya itu bagaimana kita tarik pada langkah-langkah aksi, untuk melihat fenomena sosial hari ini,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa fenomena sosial tidak boleh hanya didengar lewat media sosial atau berita, tetapi harus direspons dengan sikap dan aksi nyata. Keberpihakan kepada kaum tertindas dan termarjinalkan, baik di sektor pertanahan, perumahan, maupun lainnya, menjadi kewajiban bersama. Organisasi gerakan seperti FMN dan Organda diminta berperan aktif mengawal kebijakan agar pro terhadap masyarakat kecil dan akar rumput yang belum memiliki akses terhadap teknologi, hukum, atau regulasi.
”Mereka bisa dapat dibantu oleh teman-teman gerakan karena ini merupakan Spirit dari perjuangan Kartini,” tandasnya.
mengingatkan bahwa tantangan hari ini sudah sangat kompleks dan tidak sesederhana sekadar memperjuangkan akses perempuan ke ruang pendidikan. Spirit Kartini harus diterjemahkan melalui langkah konkret pendidikan yang mengacu pada tiga hal menurut Tan Malaka: mempertajam kecerdasan, memperhalus perasaan, serta memperkuat tekad dan kemauan.
”Jadi hari ini, setelah kita dicerdaskan oleh pengetahuan di ruang lingkup kampus, bagaimana perasaan kita sensitif atau simpatik kita terhadap kepekaan sosial kita, dengan melihat permasalahan-permasalahan publik? Apa sikap kongkrit kita? Lalu bagaimana tekad dan niat kita untuk memperjuangkan mereka-mereka ini? Saya pikir itu spirit perjuangan Kartini yang mau kita wartakan,” jelasnya.
Sebagai penutup,Veronika Boleng Kelen, S.AP., M.AP., yang akrab disapa Ibu Erni,menyoroti pentingnya memahami sistem yang membelenggu. Mengutip Antonio Gramsci soal hegemoni, ia menjelaskan bahwa sistem ini bersifat kontinyu dan diwariskan dari satu pimpinan ke pimpinan berikutnya. Oleh karena itu, sebelum mahasiswa turun ke jalan melakukan aksi, diperlukan kajian mendalam dan penyadaran massa.
”Jadi yang pertama untuk mahasiswa, sebelum kita bergerak sadar melakukan aksi, kita kaji dulu persoalan kita hari ini apa? Makanya diskusi kritis macam ini penting untuk kita tau dari mana asal penindasan itu sendiri. Ada penyadaran massa, baru kita melakukan pergerakan,” pungkasnya.










