KupangTimurInsight, Kupang – Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Undana Kupang merayakan Hari Kartini dengan menggelar diskusi produktif bertemakan “Feminisme dan Sejarah Perjuangan Perempuan” sebagai ruang refleksi atas perjalanan panjang perjuangan perempuan. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 21 April 2026, di Lapak Baca PBSI Undana Kupang.
Acara yang terbuka untuk umum ini berjalan secara dialektis. Seluruh peserta yang terlibat aktif dalam berargumen dan saling menyanggah satu sama lain.
Aktivis Front Mahasiswa Nasional (FMN), Febri Bintara, selaku pemateri menegaskan bahwa feminisme adalah sebuah gerakan yang menuntut adanya kesetaraan dalam hal kedudukan perempuan di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pada masa primitif, manusia hidup dalam kelompok sosial yang komunal dan berpindah-pindah (nomaden). Saat itu berlaku dua hukum utama, yakni produksi dan reproduksi, di mana semua aturan berjalan berdasarkan kesepakatan bersama.
“Pada masa itu belum ada konsep perempuan di dapur. Prinsipnya sangat sederhana, siapa yang lapar harus meramu, dan siapa yang kuat dia yang pergi berburu. Pembagian tugas ini tidak didasarkan pada gender, dan hasilnya dibagi secara kolektif,” jelasnya.
Dalam sistem reproduksi, garis keturunan diambil dari pihak ibu (matrilineal), karena ibu mengetahui secara pasti anak yang dilahirkannya. Laki-laki berburu, sementara perempuan memiliki kodrat melahirkan dan menyusui.
Namun, dalam perjalanan waktu terjadi transformasi sosial besar. Perubahan dimulai ketika perempuan berperan penting dalam awal munculnya pertanian. Dari situ manusia mulai menjinakkan hewan buruan dan menemukan pola produksi baru, sehingga kehidupan beralih dari nomaden menjadi menetap.
“Karena hidup menetap, muncul hasil bumi yang bisa disimpan. Di situlah mulai ada akumulasi kekayaan yang menjadi cikal bakal hegemoni kebudayaan patriarki,” ujarnya.










