Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Nasional

Diskusi Santai “Feminisme dan Sejarah Perjuangan Perempuan”

badge-check


					Foto bersama usai diskusi. Foto:Dok. Yanto/ Perbesar

Foto bersama usai diskusi. Foto:Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Undana Kupang merayakan Hari Kartini dengan menggelar diskusi produktif bertemakan “Feminisme dan Sejarah Perjuangan Perempuan” sebagai ruang refleksi atas perjalanan panjang perjuangan perempuan. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 21 April 2026, di Lapak Baca PBSI Undana Kupang.

Acara yang terbuka untuk umum ini berjalan secara dialektis. Seluruh peserta yang terlibat aktif dalam berargumen dan saling menyanggah satu sama lain.

Aktivis Front Mahasiswa Nasional (FMN), Febri Bintara, selaku pemateri menegaskan bahwa feminisme adalah sebuah gerakan yang menuntut adanya kesetaraan dalam hal kedudukan perempuan di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pada masa primitif, manusia hidup dalam kelompok sosial yang komunal dan berpindah-pindah (nomaden). Saat itu berlaku dua hukum utama, yakni produksi dan reproduksi, di mana semua aturan berjalan berdasarkan kesepakatan bersama.

“Pada masa itu belum ada konsep perempuan di dapur. Prinsipnya sangat sederhana, siapa yang lapar harus meramu, dan siapa yang kuat dia yang pergi berburu. Pembagian tugas ini tidak didasarkan pada gender, dan hasilnya dibagi secara kolektif,” jelasnya.

Dalam sistem reproduksi, garis keturunan diambil dari pihak ibu (matrilineal), karena ibu mengetahui secara pasti anak yang dilahirkannya. Laki-laki berburu, sementara perempuan memiliki kodrat melahirkan dan menyusui.

Namun, dalam perjalanan waktu terjadi transformasi sosial besar. Perubahan dimulai ketika perempuan berperan penting dalam awal munculnya pertanian. Dari situ manusia mulai menjinakkan hewan buruan dan menemukan pola produksi baru, sehingga kehidupan beralih dari nomaden menjadi menetap.

“Karena hidup menetap, muncul hasil bumi yang bisa disimpan. Di situlah mulai ada akumulasi kekayaan yang menjadi cikal bakal hegemoni kebudayaan patriarki,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa