Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Nasional

Diskusi Santai “Feminisme dan Sejarah Perjuangan Perempuan”

badge-check


					Foto bersama usai diskusi. Foto:Dok. Yanto/ Perbesar

Foto bersama usai diskusi. Foto:Dok. Yanto/

Ketua Panitia PBSI, Hermes Toni, menjelaskan bahwa tujuan diselenggarakannya diskusi ini adalah untuk mengenang sekaligus memperingati perjuangan perempuan melalui ruang refleksi yang relevan dengan kondisi saat ini.

“Yang pertama tentu untuk mengenang kembali Hari Kartini. Karena itu kami mengangkat tema *Feminisme dan Sejarah Perjuangan Perempuan* dengan harapan dapat membangkitkan semangat perempuan dalam menjalani hidupnya. Bahwa perempuan itu sebenarnya bisa hidup mandiri tanpa dominasi dari laki-laki,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pemilihan tema dilakukan dengan mempertimbangkan relevansi terhadap kondisi sosial saat ini.

“Kita mengangkat tema yang relevan dengan kondisi sekarang. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mengenang Hari Kartini sebagai simbol perjuangan hak-hak perempuan, sehingga tema feminisme menjadi sangat penting untuk dibahas,” ujarnya.

Terkait peserta, Hermes menyebut bahwa kegiatan ini melibatkan berbagai kalangan, tidak hanya dari internal prodi.

“Yang terlibat dalam kegiatan ini adalah mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, komunitas Lapak Baca PBSI, serta peserta dari luar program studi yang turut hadir,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan telah dilakukan secara matang.

“Untuk persiapan, kami sudah mulai sejak satu minggu sebelumnya agar kegiatan ini bisa berjalan dengan baik,” tambahnya.

Sebagai penutup, Hermes menyampaikan harapan agar kegiatan ini memberi dampak nyata, khususnya bagi perempuan.

“Harapan kami, peserta yang terlibat bisa terinspirasi, terutama kaum perempuan, agar semakin bangkit dan percaya bahwa mereka mampu berdiri sendiri. Ke depan, kami juga akan terus mengadakan diskusi-diskusi seperti ini sebagai ruang belajar bersama,” pungkasnya.

Diskusi diakhiri dengan closing statement dari pemateri sebagai penegasan akhir, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama seluruh peserta.

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan

9 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran

11 September 2026 - 16:00 WIB

Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

11 September 2026 - 05:27 WIB

BEM Undana Dorong Pembebasan UKT bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

11 September 2026 - 05:14 WIB

Mahasiswa UNWIRA Soroti Ketimpangan Struktural di NTT, Kritik Tata Kelola Pemerintahan

7 September 2026 - 16:02 WIB

Trending di Suara Mahasiswa