Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Nasional

Diskusi Santai “Feminisme dan Sejarah Perjuangan Perempuan”

badge-check


					Foto bersama usai diskusi. Foto:Dok. Yanto/ Perbesar

Foto bersama usai diskusi. Foto:Dok. Yanto/

Ketua Panitia PBSI, Hermes Toni, menjelaskan bahwa tujuan diselenggarakannya diskusi ini adalah untuk mengenang sekaligus memperingati perjuangan perempuan melalui ruang refleksi yang relevan dengan kondisi saat ini.

“Yang pertama tentu untuk mengenang kembali Hari Kartini. Karena itu kami mengangkat tema *Feminisme dan Sejarah Perjuangan Perempuan* dengan harapan dapat membangkitkan semangat perempuan dalam menjalani hidupnya. Bahwa perempuan itu sebenarnya bisa hidup mandiri tanpa dominasi dari laki-laki,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pemilihan tema dilakukan dengan mempertimbangkan relevansi terhadap kondisi sosial saat ini.

“Kita mengangkat tema yang relevan dengan kondisi sekarang. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mengenang Hari Kartini sebagai simbol perjuangan hak-hak perempuan, sehingga tema feminisme menjadi sangat penting untuk dibahas,” ujarnya.

Terkait peserta, Hermes menyebut bahwa kegiatan ini melibatkan berbagai kalangan, tidak hanya dari internal prodi.

“Yang terlibat dalam kegiatan ini adalah mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, komunitas Lapak Baca PBSI, serta peserta dari luar program studi yang turut hadir,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan telah dilakukan secara matang.

“Untuk persiapan, kami sudah mulai sejak satu minggu sebelumnya agar kegiatan ini bisa berjalan dengan baik,” tambahnya.

Sebagai penutup, Hermes menyampaikan harapan agar kegiatan ini memberi dampak nyata, khususnya bagi perempuan.

“Harapan kami, peserta yang terlibat bisa terinspirasi, terutama kaum perempuan, agar semakin bangkit dan percaya bahwa mereka mampu berdiri sendiri. Ke depan, kami juga akan terus mengadakan diskusi-diskusi seperti ini sebagai ruang belajar bersama,” pungkasnya.

Diskusi diakhiri dengan closing statement dari pemateri sebagai penegasan akhir, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama seluruh peserta.

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah

27 Mei 2026 - 15:27 WIB

Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang

25 Mei 2026 - 14:58 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

DPW PAN NTT Resmi Dilantik, Zulkifli Hasan Tekankan Keberpihakan pada Rakyat

15 Mei 2026 - 16:13 WIB

Trending di Politik & Hukum