Ketua Panitia PBSI, Hermes Toni, menjelaskan bahwa tujuan diselenggarakannya diskusi ini adalah untuk mengenang sekaligus memperingati perjuangan perempuan melalui ruang refleksi yang relevan dengan kondisi saat ini.
“Yang pertama tentu untuk mengenang kembali Hari Kartini. Karena itu kami mengangkat tema *Feminisme dan Sejarah Perjuangan Perempuan* dengan harapan dapat membangkitkan semangat perempuan dalam menjalani hidupnya. Bahwa perempuan itu sebenarnya bisa hidup mandiri tanpa dominasi dari laki-laki,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pemilihan tema dilakukan dengan mempertimbangkan relevansi terhadap kondisi sosial saat ini.
“Kita mengangkat tema yang relevan dengan kondisi sekarang. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mengenang Hari Kartini sebagai simbol perjuangan hak-hak perempuan, sehingga tema feminisme menjadi sangat penting untuk dibahas,” ujarnya.
Terkait peserta, Hermes menyebut bahwa kegiatan ini melibatkan berbagai kalangan, tidak hanya dari internal prodi.
“Yang terlibat dalam kegiatan ini adalah mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, komunitas Lapak Baca PBSI, serta peserta dari luar program studi yang turut hadir,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan telah dilakukan secara matang.
“Untuk persiapan, kami sudah mulai sejak satu minggu sebelumnya agar kegiatan ini bisa berjalan dengan baik,” tambahnya.
Sebagai penutup, Hermes menyampaikan harapan agar kegiatan ini memberi dampak nyata, khususnya bagi perempuan.
“Harapan kami, peserta yang terlibat bisa terinspirasi, terutama kaum perempuan, agar semakin bangkit dan percaya bahwa mereka mampu berdiri sendiri. Ke depan, kami juga akan terus mengadakan diskusi-diskusi seperti ini sebagai ruang belajar bersama,” pungkasnya.
Diskusi diakhiri dengan closing statement dari pemateri sebagai penegasan akhir, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama seluruh peserta.
Kontributor: Yanto










