Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Hari Kartini bukan sekadar momentum seremonial atau euforia tahunan.
“Hari Kartini harus dimaknai sebagai hari perjuangan untuk menuntut kesetaraan dalam sosial, ekonomi, politik, dan budaya,” ujarnya.
Ia menilai perjuangan R.A. Kartini tetap relevan hingga hari ini, terutama dalam tuntutan upah setara, akses pendidikan, dan kedudukan sosial yang setara.
“Selama budaya feodal patriarkal masih ada, maka perjuangan kesetaraan akan terus relevan,” jelasnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa bentuk perjuangan harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Perjuangan hari ini harus menggunakan model yang lebih modern dan sesuai dengan kondisi perempuan saat ini,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa perjuangan perempuan tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Perjuangan perempuan adalah perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Tidak akan ada kemenangan sejati jika perempuan berjuang sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, perjuangan tersebut harus bersatu dengan kaum tani, buruh, mahasiswa, dan pemuda di desa maupun kota. Selain itu, laki-laki juga memiliki peran penting dalam menciptakan ruang aman bagi perempuan.
“Kita semua harus menyediakan ruang aman bagi perempuan, baik di kampus, tempat kerja, pabrik, maupun di desa,” jelasnya.
Sebagai penutup, ia berharap diskusi seperti ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata.
“Diskusi Hari Kartini harus menjadi bahan bakar bagi perempuan Indonesia untuk terus berjuang secara militan, patriotik, dan demokratis dalam menuntut kesetaraan,” pungkasnya.










