Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Nasional

Diskusi Santai “Feminisme dan Sejarah Perjuangan Perempuan”

badge-check


					Foto bersama usai diskusi. Foto:Dok. Yanto/ Perbesar

Foto bersama usai diskusi. Foto:Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Undana Kupang merayakan Hari Kartini dengan menggelar diskusi produktif bertemakan “Feminisme dan Sejarah Perjuangan Perempuan” sebagai ruang refleksi atas perjalanan panjang perjuangan perempuan. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 21 April 2026, di Lapak Baca PBSI Undana Kupang.

Acara yang terbuka untuk umum ini berjalan secara dialektis. Seluruh peserta yang terlibat aktif dalam berargumen dan saling menyanggah satu sama lain.

Aktivis Front Mahasiswa Nasional (FMN), Febri Bintara, selaku pemateri menegaskan bahwa feminisme adalah sebuah gerakan yang menuntut adanya kesetaraan dalam hal kedudukan perempuan di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pada masa primitif, manusia hidup dalam kelompok sosial yang komunal dan berpindah-pindah (nomaden). Saat itu berlaku dua hukum utama, yakni produksi dan reproduksi, di mana semua aturan berjalan berdasarkan kesepakatan bersama.

“Pada masa itu belum ada konsep perempuan di dapur. Prinsipnya sangat sederhana, siapa yang lapar harus meramu, dan siapa yang kuat dia yang pergi berburu. Pembagian tugas ini tidak didasarkan pada gender, dan hasilnya dibagi secara kolektif,” jelasnya.

Dalam sistem reproduksi, garis keturunan diambil dari pihak ibu (matrilineal), karena ibu mengetahui secara pasti anak yang dilahirkannya. Laki-laki berburu, sementara perempuan memiliki kodrat melahirkan dan menyusui.

Namun, dalam perjalanan waktu terjadi transformasi sosial besar. Perubahan dimulai ketika perempuan berperan penting dalam awal munculnya pertanian. Dari situ manusia mulai menjinakkan hewan buruan dan menemukan pola produksi baru, sehingga kehidupan beralih dari nomaden menjadi menetap.

“Karena hidup menetap, muncul hasil bumi yang bisa disimpan. Di situlah mulai ada akumulasi kekayaan yang menjadi cikal bakal hegemoni kebudayaan patriarki,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah

27 Mei 2026 - 15:27 WIB

Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang

25 Mei 2026 - 14:58 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

DPW PAN NTT Resmi Dilantik, Zulkifli Hasan Tekankan Keberpihakan pada Rakyat

15 Mei 2026 - 16:13 WIB

Trending di Politik & Hukum