Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Nasional

Diskusi Santai “Feminisme dan Sejarah Perjuangan Perempuan”

badge-check


					Foto bersama usai diskusi. Foto:Dok. Yanto/ Perbesar

Foto bersama usai diskusi. Foto:Dok. Yanto/

Sementara itu, Noberson Lena, alumni kampus Undana, menanggapi dengan menyoroti dinamika hubungan antara upah dan kompetensi kerja di tengah perubahan sistem dunia yang kian cepat. Menurutnya, isu upah tidak bisa lagi dipandang secara sederhana hanya sebagai persoalan gender, melainkan harus dikaitkan erat dengan kemampuan kerja.

“Dalam definisi kerja masa kini, terdapat pembagian yang jelas. Ada sektor yang mengandalkan kekuatan fisik, namun ada pula yang sangat bergantung pada keterampilan khusus,” ujarnya.

Ia mempertanyakan validitas narasi marginalisasi upah perempuan jika tidak dibarengi dengan evaluasi kompetensi.

“Pertanyaannya mendasar: apakah kita sudah memiliki keterampilan yang relevan sehingga layak dibayar sesuai harapan? Kita tidak bisa sekadar menuntut kesetaraan upah tanpa melihat di mana posisi kerja kita ditempatkan dan apa kontribusi nyata yang diberikan,” tegasnya.

Sebagai ilustrasi, ia memberikan contoh konkret:

“Misalkan seseorang berlatar belakang pendidikan perawat, lalu bekerja di sektor Teknologi Informasi. Apakah pantas jika ia dibayar setara dengan pekerja kasar? Tentu tidak, karena jenis keterampilannya berbeda.”

Oleh karena itu, ia menolak generalisasi bahwa rendahnya upah perempuan semata-mata disebabkan oleh diskriminasi gender. Menurutnya, momentum Hari Kartini seharusnya menjadi pengingat bagi perempuan untuk terus mengasah keterampilan dan meningkatkan kapasitas diri.

“Perkembangan zaman telah membuka akses belajar yang sama bagi semua orang, kecuali bagi mereka yang terkendala faktor ekonomi. Maka, ada tiga kriteria utama yang harus dipenuhi, yakni pendidikan kognitif, keterampilan teknis, dan kemampuan mengelola potensi diri,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa peningkatan kualitas diri menjadi kunci penting dalam menghadapi persaingan kerja modern.

“Ketika tiga aspek ini terpenuhi, maka posisi tawar dalam dunia kerja juga akan meningkat,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah

27 Mei 2026 - 15:27 WIB

Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang

25 Mei 2026 - 14:58 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

DPW PAN NTT Resmi Dilantik, Zulkifli Hasan Tekankan Keberpihakan pada Rakyat

15 Mei 2026 - 16:13 WIB

Trending di Politik & Hukum