Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Ekonomi & Ekologi

Nobar dan Diskusi Film “Menolak Punah” Jadi Ruang Refleksi Isu Lingkungan di Kupang

badge-check


					Foto Bersama Usai Nobar dan Diskusi. Foto: Dok. Yanto/
Perbesar

Foto Bersama Usai Nobar dan Diskusi. Foto: Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – Kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film bertema “Menolak Punah” digelar di Kantor Yayasan PIKUL, Selasa (5/05/2026) malam. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama atas kondisi lingkungan yang kian terancam akibat aktivitas manusia.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Yayasan PIKUL, WALHI NTT, Sahabat Alam NTT (Shalam), dan Koalisi Kopi. Kolaborasi ini bertujuan membuka ruang dialog kritis sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap isu-isu kerusakan lingkungan.

Diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni Horiana Yolanda dari WALHI NTT dan Radith Giantiano dari Koalisi Kopi Timor, dengan moderator Yasiintus Wasa dari Sahabat Alam NTT.

Dalam pemaparannya, Horiana Yolanda menyampaikan bahwa masyarakat saat ini sedang berada dalam sistem yang berdampak besar terhadap lingkungan.

“Saat ini masyarakat sedang ‘terjebak’ dalam sistem kapitalisme modern yang sejak proses produksi hingga distribusi telah merusak lingkungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa siklus tersebut bahkan kembali mencemari alam, termasuk laut, seperti yang terjadi di kawasan Laut Cina Selatan. Indonesia sendiri kerap disebut sebagai salah satu penyumbang sampah plastik terbesar.

Horiana juga menyoroti pola konsumsi masyarakat yang mendorong produksi massal tidak berkelanjutan. Menurutnya, produk murah yang beredar di pasaran menunjukkan adanya rantai produksi panjang yang tidak adil.

“Barang-barang murah seperti Rp30.000–Rp35.000 menunjukkan adanya rantai produksi panjang yang seringkali melibatkan tenaga kerja yang dieksploitasi, bahkan bisa bekerja hingga 24 jam dengan upah rendah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa dampak lingkungan semakin nyata, mulai dari pencemaran air dan udara akibat limbah industri hingga dampak pada rantai makanan laut.

“Sampah plastik yang masuk ke laut akan dikonsumsi ikan, lalu kembali ke manusia melalui rantai makanan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi