Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Ekonomi & Ekologi

Nobar dan Diskusi Film “Menolak Punah” Jadi Ruang Refleksi Isu Lingkungan di Kupang

badge-check


					Foto Bersama Usai Nobar dan Diskusi. Foto: Dok. Yanto/
Perbesar

Foto Bersama Usai Nobar dan Diskusi. Foto: Dok. Yanto/

Selain itu, ia juga menyinggung dampak kesehatan yang muncul, seperti penyakit paru-paru hingga gangguan reproduksi pada biota laut akibat pencemaran.

Menurut Horiana, masyarakat NTT tidak boleh mengabaikan perannya sebagai bagian dari ekosistem.

“Kebiasaan kecil seperti membuang sampah sembarangan tetap berkontribusi pada kerusakan lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, narasumber kedua, Radith Giantiano, membagikan pengalaman lapangan terkait kondisi ekosistem pesisir di NTT, mulai dari Pulau Rote, Semau, Flores hingga Alor. Ia menemukan banyak sampah plastik di dasar laut yang merusak terumbu karang.

Ia juga menyoroti perubahan yang dirasakan masyarakat pesisir.

“Dahulu masyarakat mudah mendapatkan kerang dan kepiting di sekitar pantai, namun sekarang semakin sulit akibat kerusakan ekosistem,” ungkapnya.

Radith turut mengungkap temuan satwa laut yang terdampak sampah.

“Ada penyu yang terjerat dan ikan yang terperangkap dalam limbah plastik,” katanya.

Ia kemudian mempertanyakan makna keadilan dalam konteks lingkungan.

“Apakah keadilan hanya untuk generasi saat ini, atau juga untuk generasi mendatang?” ujarnya.

Selain itu, ia mengkritik kebijakan pembangunan yang lebih berorientasi pada ekonomi.

“Pembangunan sering mengatasnamakan ekonomi, tetapi mengorbankan ekologi dan masyarakat lokal,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi, peserta bernama Tini menyoroti persoalan lingkungan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Ia mempertanyakan apakah hasil penelitian yang dilakukan telah disampaikan kepada pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

GMKI Kupang Desak Polisi Bongkar Tuntas Kematian Fika Serwutun: Jangan Ada Rekayasa Kasus

15 Mei 2026 - 11:07 WIB

Trending di Politik & Hukum