Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Ekonomi & Ekologi

Nobar dan Diskusi Film “Menolak Punah” Jadi Ruang Refleksi Isu Lingkungan di Kupang

badge-check


					Foto Bersama Usai Nobar dan Diskusi. Foto: Dok. Yanto/
Perbesar

Foto Bersama Usai Nobar dan Diskusi. Foto: Dok. Yanto/

Selain itu, ia juga menyinggung dampak kesehatan yang muncul, seperti penyakit paru-paru hingga gangguan reproduksi pada biota laut akibat pencemaran.

Menurut Horiana, masyarakat NTT tidak boleh mengabaikan perannya sebagai bagian dari ekosistem.

“Kebiasaan kecil seperti membuang sampah sembarangan tetap berkontribusi pada kerusakan lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, narasumber kedua, Radith Giantiano, membagikan pengalaman lapangan terkait kondisi ekosistem pesisir di NTT, mulai dari Pulau Rote, Semau, Flores hingga Alor. Ia menemukan banyak sampah plastik di dasar laut yang merusak terumbu karang.

Ia juga menyoroti perubahan yang dirasakan masyarakat pesisir.

“Dahulu masyarakat mudah mendapatkan kerang dan kepiting di sekitar pantai, namun sekarang semakin sulit akibat kerusakan ekosistem,” ungkapnya.

Radith turut mengungkap temuan satwa laut yang terdampak sampah.

“Ada penyu yang terjerat dan ikan yang terperangkap dalam limbah plastik,” katanya.

Ia kemudian mempertanyakan makna keadilan dalam konteks lingkungan.

“Apakah keadilan hanya untuk generasi saat ini, atau juga untuk generasi mendatang?” ujarnya.

Selain itu, ia mengkritik kebijakan pembangunan yang lebih berorientasi pada ekonomi.

“Pembangunan sering mengatasnamakan ekonomi, tetapi mengorbankan ekologi dan masyarakat lokal,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi, peserta bernama Tini menyoroti persoalan lingkungan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Ia mempertanyakan apakah hasil penelitian yang dilakukan telah disampaikan kepada pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Warga Padati CFD Kupang, Sambut Kehadiran Jokowi dengan Antusias

1 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Wawali Kota Kupang Luncurkan Program PKM Berdampak 2026

30 Juli 2026 - 16:07 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Trending di Suara Mahasiswa