Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Ekonomi & Ekologi

Nobar dan Diskusi Film “Menolak Punah” Jadi Ruang Refleksi Isu Lingkungan di Kupang

badge-check


					Foto Bersama Usai Nobar dan Diskusi. Foto: Dok. Yanto/
Perbesar

Foto Bersama Usai Nobar dan Diskusi. Foto: Dok. Yanto/

Selain itu, ia juga menyinggung dampak kesehatan yang muncul, seperti penyakit paru-paru hingga gangguan reproduksi pada biota laut akibat pencemaran.

Menurut Horiana, masyarakat NTT tidak boleh mengabaikan perannya sebagai bagian dari ekosistem.

“Kebiasaan kecil seperti membuang sampah sembarangan tetap berkontribusi pada kerusakan lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, narasumber kedua, Radith Giantiano, membagikan pengalaman lapangan terkait kondisi ekosistem pesisir di NTT, mulai dari Pulau Rote, Semau, Flores hingga Alor. Ia menemukan banyak sampah plastik di dasar laut yang merusak terumbu karang.

Ia juga menyoroti perubahan yang dirasakan masyarakat pesisir.

“Dahulu masyarakat mudah mendapatkan kerang dan kepiting di sekitar pantai, namun sekarang semakin sulit akibat kerusakan ekosistem,” ungkapnya.

Radith turut mengungkap temuan satwa laut yang terdampak sampah.

“Ada penyu yang terjerat dan ikan yang terperangkap dalam limbah plastik,” katanya.

Ia kemudian mempertanyakan makna keadilan dalam konteks lingkungan.

“Apakah keadilan hanya untuk generasi saat ini, atau juga untuk generasi mendatang?” ujarnya.

Selain itu, ia mengkritik kebijakan pembangunan yang lebih berorientasi pada ekonomi.

“Pembangunan sering mengatasnamakan ekonomi, tetapi mengorbankan ekologi dan masyarakat lokal,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi, peserta bernama Tini menyoroti persoalan lingkungan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Ia mempertanyakan apakah hasil penelitian yang dilakukan telah disampaikan kepada pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Warga Padati CFD Kupang, Sambut Kehadiran Jokowi dengan Antusias

1 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Wawali Kota Kupang Luncurkan Program PKM Berdampak 2026

30 Juli 2026 - 16:07 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Trending di Suara Mahasiswa