KupangTimurInsight, Kupang – Founder Komunitas Penjaga Budaya Hellong-Uibaha (KPBH), Rally M. Bistolen, S.H., M.H., menilai film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menggambarkan bagaimana masyarakat adat menghadapi kebijakan negara yang dinilai mengabaikan hak-hak mereka, khususnya dalam pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua.
Saat diwawancarai wartawan Kupang Timur INSIGHT.com usai pemutaran film di Sekretariat KPBH, Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Jumat (22/05/2026) malam, Rally mengatakan film tersebut memperlihatkan keterlibatan aparat negara dalam pembangunan PSN yang berdampak langsung terhadap masyarakat adat dan ruang hidup mereka.
“Dalam film Pesta Babi ini pemerintah menggunakan para aparat TNI untuk terlibat langsung dalam pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang terjadi di Papua,” ujar Rally.
Menurutnya, isu kolonialisme modern yang diangkat dalam film masih sangat relevan hingga saat ini. Ia menilai negara masih menunjukkan sikap diskriminatif terhadap masyarakat adat, salah satunya terlihat dari belum disahkannya Undang-Undang Masyarakat Adat yang telah diperjuangkan selama hampir 18 tahun.
“Hal ini karena masyarakat dianggap akan menghalangi kepentingan pemerintah untuk melaksanakan program-program strategis nasional. Melalui film dokumenter Pesta Babi, sebenarnya diceritakan bagaimana negara bertindak sebagai ‘kolonial baru’ untuk menindas masyarakatnya sendiri,” jelasnya.











